Mojokerto – Seperti “buah manis dari ladang yang dirawat penuh kesabaran”, upaya panjang Pemerintah Kota Mojokerto dalam memerangi stunting akhirnya kembali membuahkan pengakuan nasional. Kota kecil yang terus melesat dalam berbagai inovasi kesehatan ini resmi menerima dana insentif fiskal sebesar Rp6 miliar dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia sebagai apresiasi atas kinerja penanganan stunting.
Penghargaan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 330 Tahun 2025 pada Ahad (10/11/2025). Dana ini diberikan sebagai bentuk penilaian atas capaian signifikan Kota Mojokerto dalam menurunkan prevalensi stunting dalam beberapa tahun terakhir, khususnya periode 2019 hingga September 2025.
“Alhamdulillah, capaian ini merupakan buah kerja keras dan sinergi seluruh pihak dalam menurunkan angka stunting di Kota Mojokerto. Kami tidak hanya fokus pada penanganan, tetapi juga pencegahan dari hulu ke hilir,” tutur Ning Ita, Wali Kota Mojokerto, Kamis (13/11/2025).
Pernyataan tersebut menggarisbawahi strategi komprehensif yang dilakukan Pemkot Mojokerto. Data EPPGBM menunjukkan penurunan prevalensi stunting dari 9,04% pada 2019 menjadi 1,16% pada September 2025. Penurunan berlapis ini mengindikasikan efektivitas intervensi yang berjalan secara berkelanjutan.
“Penurunan yang sangat signifikan ini menjadi bukti nyata bahwa berbagai program intervensi yang kita lakukan berjalan efektif dan tepat sasaran,” imbuh Ning Ita.
Berbagai langkah strategis turut mengakselerasi keberhasilan tersebut, mulai dari edukasi calon pengantin, pendampingan ibu hamil dan keluarga berisiko, penguatan gizi spesifik dan sensitif, hingga pemanfaatan aplikasi digital dalam monitoring tumbuh kembang anak. Pemkot Mojokerto juga menggerakkan PKK, kader posyandu, serta para motivator keluarga untuk mendampingi warga dalam upaya mencegah risiko stunting.
Program inovatif seperti Canting Gula Mojo (Cegah Stunting, Gerak Unggul Pemberdayaan Masyarakat Kota Mojokerto) dan DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) menjadi motor penting dalam penguatan edukasi dan pemenuhan gizi masyarakat. Selain itu, bantuan pangan berkala bagi keluarga berisiko wasting turut menjaga intervensi tetap tepat sasaran.
“Dana insentif fiskal ini akan kami manfaatkan sebaik mungkin untuk memperkuat program penanganan stunting agar Kota Mojokerto benar-benar bebas dari stunting,” tegas Ning Ita sekali lagi.
Dengan prevalensi stunting terendah sepanjang sejarahnya, Kota Mojokerto kini menjadi contoh nyata bagaimana daerah kecil dapat menghadirkan perubahan besar melalui kolaborasi, ketekunan, dan inovasi berkelanjutan. Capaian ini sekaligus menguatkan langkah kota menuju terwujudnya generasi sehat dan berdaya saing sebagaimana tertuang dalam Cita pertama Panca Cita Kota Mojokerto tentang peningkatan kualitas SDM.
