Sijunjung – Fajar masih enggan menyapa saat Nola Ekanita, S.Farm., Apt., sudah siap dengan jaket tebal dan helm di kepala. Ia memacu sepeda motornya dari Puskesmas Kumanis, Kecamatan Sumpur Kudus, menuju Nagari Sisawah demi mengikuti kegiatan bakti sosial yang digelar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Sumatera Barat.
Sendirian, Nola memulai perjalanan sekitar pukul 05.30 WIB, menempuh medan curam dan berbatu sejauh lebih dari satu jam setengah. Acara tersebut turut dihadiri Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dan Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir yang memberikan penghargaan bagi para tenaga kesehatan yang telah berjuang di pelosok-pelosok Sumbar.
Meski tempat tugasnya jauh dari kampung halaman di Limo Kaum, Tanah Datar, semangat Nola tak pernah padam. Di tengah terbatasnya sarana, akses, dan risiko cuaca buruk, ia tetap menjalankan peran sebagai apoteker dengan sepenuh hati.
“Berangkat pagi-pagi seperti ini sudah biasa. Kadang kami harus melawan jarak dan cuaca, tapi rasa lelah itu hilang ketika melihat masyarakat terbantu,” ujar Nola, saat ditemui di sela kegiatan pelayanan di Sisawah.
Tugasnya bukan sekadar menyuplai obat. Di garis depan layanan dasar kesehatan, Nola bertanggung jawab menjamin keamanan, ketepatan dosis, dan efektivitas obat yang diterima pasien. Namun, peran vital ini sering kali luput dari sorotan.
“Apoteker bukan sekadar membagikan obat. Kami memastikan pasien menerima pengobatan yang benar, aman, dan sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Di daerah dengan literasi kesehatan yang masih rendah, ia juga rutin mengedukasi warga tentang cara penggunaan obat secara rasional. Langkah ini penting untuk mencegah risiko kesalahan penggunaan obat dan mendorong pola hidup sehat berbasis informasi.
Menurut Nola, bertugas di pedalaman justru menjadi panggilan nurani yang tak ternilai.
“Bagi saya, ini bukan sekadar pekerjaan, tapi bentuk tanggung jawab moral. Selama masih bisa membantu masyarakat, semua lelah menjadi ringan,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Kisah pengabdian Nola Ekanita menggambarkan wajah kemanusiaan yang tak selalu tampil di layar kaca. Dalam kesunyian pelosok, langkah kecilnya membawa harapan besar bagi masyarakat yang kerap terabaikan.
