Langkah awal kepemimpinan seringkali ditentukan oleh momentum dan visi yang jelas. Begitulah perjalanan dr. H. Andi Sofyan Hasdam, sosok dokter spesialis saraf yang menjadi Wali Kota pertama Bontang dan memimpin kota industri ini selama dua periode—menorehkan jejak dalam sejarah otonomi daerah.
Pada era awal 2000-an, Bontang belum sebesar sekarang. Kota ini masih dalam masa transisi administratif, baru saja memisahkan diri dari Kutai Timur. Di tengah dinamika itu, dr. Andi Sofyan Hasdam dilantik sebagai Wali Kota Bontang pada 1 Maret 2001, dengan Adam Malik sebagai wakilnya. Pelantikan ini menandai awal dari dekade penting pembangunan kota yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan industri strategis di Kalimantan Timur.
Menurut catatan resmi Setda Bontang dan Mahkamah Agung, pasangan ini memimpin hingga 23 Maret 2006, sebelum memasuki periode kedua. Pada masa jabatan berikutnya (2006–2011), ia menggandeng Drs. Sjahid Daroini sebagai wakil. Sepanjang dua periode ini, pemerintah kota menaruh fokus utama pada penyediaan air bersih, kelistrikan, hingga infrastruktur dasar, merespons cepatnya urbanisasi akibat keberadaan industri LNG dan pupuk.
“Pada masa itu, tantangan terbesarnya adalah membangun sistem layanan dasar yang kuat dalam waktu singkat,” ungkap sumber lokal dari arsip media daerah. Infrastruktur kota seperti jalan lingkungan, jaringan air bersih, hingga perluasan listrik menjadi prioritas pembangunan yang diakui oleh berbagai kalangan.
Namun, perjalanan politik Sofyan Hasdam tidak selalu mulus. Pada April 2012, ia dinyatakan bersalah dalam perkara penyalahgunaan kewenangan anggaran oleh pengadilan, dengan vonis 1,5 tahun penjara. Kasus ini terkait masa kepemimpinan pertamanya dan menjadi bagian penting dalam catatan sejarah pemerintahan lokal.
Lepas dari masa hukuman dan kehidupan birokrasi lokal, Hasdam tak sepenuhnya meninggalkan dunia politik. Ia kembali mencuri perhatian publik saat dilantik sebagai anggota DPD RI periode 2024–2029. Media nasional menyoroti perjalanannya yang unik: dari dokter spesialis saraf, ke kepala daerah, hingga senator di tingkat nasional.
Perjalanan ini menunjukkan bagaimana dinamika politik lokal bisa melahirkan pemimpin dengan latar belakang yang beragam. Ia bukan hanya dikenal sebagai tokoh birokrasi, tetapi juga sebagai pribadi yang menjembatani antara dunia medis, politik, dan pelayanan publik.
Bontang kini terus berkembang, dengan banyak kebijakan dasar yang menjadi warisan dari masa kepemimpinan Hasdam. Meskipun catatan hukum sempat menghentikan langkahnya sementara waktu, kontribusinya dalam fase awal kota tetap menjadi referensi penting dalam memahami arah kebijakan Bontang pasca-otonomi.
Andi Sofyan Hasdam tidak hanya meninggalkan jejak administratif, tetapi juga sebuah narasi bahwa pemimpin bisa datang dari latar profesi apa pun, asalkan memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan zaman dan niat untuk membangun.
