Ledakan industri mengubah wajah Bontang dari kampung pesisir menjadi simpul ekonomi energi dan petrokimia. Dalam tempo satu dekade, kota ini melesat—berkat dua tonggak penting: operasional Badak LNG (1977) dan berdirinya Pupuk Kaltim (1977).
Transformasi bermula dari proyek gas alam cair oleh PT Badak NGL. Kilang LNG-nya mulai beroperasi pada 5 Juli 1977, dan pengiriman perdana dilakukan 9 Agustus 1977 ke Jepang. Keberhasilan ekspor ini menjadi titik balik ekonomi lokal. Tak lama setelah itu, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) didirikan pada 7 Desember 1977 sebagai produsen amonia dan urea berbasis gas.
“Sejak proyek LNG dan pupuk ditetapkan, pertumbuhan kota berjalan sangat pesat sejak 1976,” tertulis dalam dokumen resmi Pemkot Bontang.
Koridor industri mulai dibentuk. Jalur pipa gas, pelabuhan logistik di Tanjung Laut, dan jaringan jalan baru menghubungkan zona industri dengan pemukiman warga lama di pesisir. Kajian sejarah mencatat dekade 1970–1980 sebagai fase “awal industrialisasi” Bontang yang signifikan.
Tak hanya fasilitas produksi, hadir pula permukiman karyawan lengkap dengan suplai listrik dan air dari Badak LNG. Klinik proyek milik PKT berkembang menjadi RS Pupuk Kaltim pada awal 1980-an. Layanan ini menjadi cikal bakal infrastruktur sosial kota yang layak huni.
Klaster industri kian berkembang. PT Kaltim Industrial Estate (KIE) dibentuk untuk mengelola kawasan industri strategis di beberapa titik kota, termasuk Tursina dan Equator. Ini menjadikan Bontang sebagai pusat manufaktur energi dan petrokimia yang solid.
Di saat bersamaan, arus urbanisasi melonjak. Para pekerja dari berbagai daerah—Jawa, Sulawesi, Sumatra, hingga NTT—berbondong datang, menyatu dengan komunitas lokal Bugis, Bajau, dan Mandar. Komposisi multietnis ini memperkaya kultur kota yang dulunya maritim.
Puncaknya, pada 1 Desember 1989, Bontang naik status menjadi Kota Administratif melalui PP No. 20 Tahun 1989. Legalitas ini memperkuat peran Bontang sebagai kota industri sekaligus membuka jalan menuju otonomi penuh satu dekade kemudian.
Periode 1970–1980-an membuktikan bahwa arah pembangunan bisa berubah total hanya dalam sepuluh tahun. Kombinasi investasi strategis, penataan ruang, dan perencanaan kelembagaan yang cermat menjadikan Bontang bukan hanya kota industri, tetapi juga kota masa depan.
