Ritual sakral yang disebut tawar masih dijalankan oleh masyarakat Kutai di Desa Benua Baru Ulu, Kutai Timur. Tradisi ini bukan sekadar penyembuhan, melainkan cerminan nilai spiritual dan ikatan kultural yang diwariskan turun-temurun dari Kesultanan Kutai Martadipura. Dalam budaya Kutai, tawar berarti “obat”—namun bukan obat biasa. Ia hadir lewat mantera, pantangan, dan keyakinan akan kekuatan leluhur.
Fenomena ini menjadi semakin langka seiring berkembangnya teknologi medis. Saat sebagian besar masyarakat modern beralih pada rumah sakit dan klinik, tradisi tawar justru menolak pamrih finansial. Pasien yang ingin ditawar cukup membawa persembahan simbolis seperti bahan makanan atau hasil bumi, sebagai bentuk penghormatan pada sang dukun dan tradisi yang dijunjung.
“Tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya keturunan langsung dari Kesultanan Kutai yang bisa membaca mantera tawar,” ungkap seorang warga adat Kutai.
Ritual ini berlangsung dalam suasana khidmat, sering dilakukan malam hari. Sang dukun memulai dengan membaca mantera sambil memegang benda-benda pusaka atau air yang telah diberi doa. Dalam proses ini, pasien diminta mematuhi pantangan tertentu—baik dari segi makanan maupun aktivitas fisik.
Namun, tantangan nyata kini datang dari derasnya modernisasi. Anak-anak muda mulai melupakan nilai tradisi ini. Mereka lebih mengenal resep dokter daripada khasiat mantera yang diwariskan. Ini menjadi alarm penting bagi pelestari budaya agar segera mendokumentasikan praktik tawar sebagai warisan budaya takbenda.
Beberapa komunitas adat dan budayawan kini berupaya keras memperkenalkan kembali ritual ini lewat festival budaya, dokumenter lokal, dan pendidikan adat. Meski tak semua percaya, namun apresiasi terhadap kearifan lokal tetap harus ditanamkan.
Tradisi tawar mengajarkan bahwa penyembuhan bukan hanya soal fisik, tapi juga ikatan spiritual antara manusia, leluhur, dan alam semesta. Di tengah derasnya perubahan zaman, tawar tetap berdiri sebagai lambang kearifan yang tak ternilai.
