Kediri – Di tengah gencarnya program swasembada pangan nasional, kabar miring mengenai penolakan gabah petani di wilayah Kediri dan Nganjuk mendapat bantahan tegas dari para mitra Bulog. Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI) Kediri menegaskan bahwa Bulog tetap menjadi penyerapan gabah terbaik se-Jawa Timur.
Ketua PERPADI Kediri, Beny Setyawan, mengatakan bahwa informasi mengenai Bulog tidak menyerap gabah petani adalah keliru. Ia menegaskan, mitra Bulog masih aktif mengerjakan pengeringan gabah dari hasil panen petani Nganjuk dan Kediri.
“Bulog Kediri sudah menjadi nomor satu dalam penyerapan beras dan gabah di Jawa Timur, bahkan capaian penyerapan sudah mencapai 154,19 persen, melebihi target,” ujarnya pada Kamis (27/3/2025).
Beny menjelaskan bahwa hingga akhir Maret 2025, total gabah yang diserap dari wilayah Nganjuk dan Kediri mencapai 18.394.455 kg atau lebih dari 18 ribu ton. Namun, ia mengakui bahwa saat ini mitra Bulog menghadapi tantangan teknis karena kapasitas mesin pengering gabah (dryer) tidak sebanding dengan volume panen raya.
“Para mitra kini lebih fokus memastikan kualitas gabah agar proses pengeringan dan penggilingan bisa optimal. Banyak gabah dari petani yang kualitasnya rendah—basah, banyak biji hampa dan sampah daun padi—sehingga mempersulit dan memperlama proses pengeringan,” tambahnya.
Masalah kualitas gabah yang rendah membuat waktu pengeringan bisa melonjak dari 10–12 jam menjadi hingga 40 jam, menyebabkan pembengkakan biaya dan kerusakan alat. Selain itu, hasil beras yang dihasilkan dari gabah bermutu rendah pun tidak maksimal.
Sementara itu, mitra Bulog lain, Afnan Subagio, menilai kualitas gabah yang buruk justru dapat menghambat program swasembada pangan. Ia menekankan pentingnya menjaga mutu hasil panen untuk menghasilkan beras berkualitas tinggi.
Senada, mitra lainnya, Yimmi Stepanoes, menekankan pentingnya sinergi semua pihak untuk mendukung program swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto pada 2025. Ia juga menyoroti pentingnya perbaikan metode dan waktu panen demi hasil padi yang lebih baik.
Saat ini, 14 mitra maklon Bulog Kediri aktif menerima gabah dan memprosesnya sesuai kapasitas sarana pascapanen yang dimiliki. Mereka juga terus membuka peluang kemitraan baru dengan pelaku usaha penggilingan padi yang memiliki fasilitas memadai.
Di tengah keterbatasan kapasitas dryer—sekitar 500 ton per hari—mitra Bulog memilih fokus menyelesaikan stok gabah yang sudah masuk gudang agar tidak terjadi penumpukan. Hal ini diambil sebagai langkah strategis demi efisiensi dan kualitas hasil penggilingan.
