Kediri – Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur, kini tengah fokus menangani permukiman kumuh di wilayahnya. Berbagai program telah direncanakan untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan layak huni.
Penjabat Wali Kota Kediri, Zanariah, menyampaikan bahwa pemkot telah membuat program pengentasan permukiman kumuh. Dalam Ekspose Proposal DAK (Dana Alokasi Khusus) Tematik Pengentasan Permukiman Kumuh Terpadu (PPKT) TA 2025, berbagai titik yang menjadi fokus pengentasan telah dijelaskan secara rinci.
Fokus Penanganan di Kawasan Ketami II
“Kawasan kumuh yang kami ajukan adalah Kawasan Ketami II di Kecamatan Pesantren Kota Kediri. Ketami II ini terletak di bagian timur kota dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kediri. Luasnya 9,6 hektar, masuk kategori kumuh ringan dengan skor kekumuhan 21. Mayoritas penduduknya adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang bekerja sebagai buruh tani atau ternak ikan dan sektor informal lainnya,” kata Zanariah, Jumat (12/7/2024).
Zanariah menambahkan, dalam analisis SWOT (strengths / kekuatan, weaknesses / kelemahan, opportunities / peluang, dan threats / ancaman) terhadap penanganan permukiman kumuh di Ketami II, dilakukan intervensi berupa pembangunan dan peningkatan kualitas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebanyak 21 unit, pembangunan dan peningkatan kualitas jalan lingkungan, serta perluasan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) jaringan perpipaan sejauh 3,5 kilometer.
Intervensi Lingkungan dan Inovasi
Selain itu, ada pembangunan drainase lingkungan sepanjang 1.205,5 meter, peningkatan kualitas tempat pengelolaan sampah (TPS3R) untuk mendukung peningkatan ekonomi warga dan pengelolaan sampah di sumbernya.
Juga, dibangun 16 unit fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) individu dan pengadaan alat pemadam api ringan (APAR) di setiap RT.
“Konsep dasar penanganan permukiman kumuh ini adalah peningkatan kualitas permukiman dan lingkungannya untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Kami juga mengusulkan inovasi berupa pengelolaan TPS3R Ketami, wisata edukasi pengelolaan TPS3R dan ikan hias, budi daya ikan lele, serta pengembangan RTLH menjadi homestay untuk mendukung wisata budidaya ikan cupang,” ujar Zanariah.
Keberlanjutan dan Kolaborasi
Zanariah juga menyoroti pentingnya keberlanjutan pasca intervensi penanganan kumuh. Rencana operasional, pemeliharaan, dan perawatan akan dilakukan dengan memperkuat kolaborasi antara pemangku kebijakan dan masyarakat.
“Saya selalu menekankan kepada jajaran saya untuk menghilangkan sekat-sekat sektoral agar program pemerintah bisa memberikan dampak yang optimal bagi masyarakat, termasuk dalam intervensi penanganan kumuh ini,” tegas Zanariah.
Dengan langkah-langkah strategis ini, Pemerintah Kota Kediri berharap dapat merubah wajah kawasan kumuh menjadi lebih baik, sehat, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
