Tasikmalaya – Desa Guranteng terkenal dengan potensi peternakan dan pertaniannya. Kini Desa Guranteng sedang membudidayakan Rumput Pakchong sebagai pakan ternak.
Kepala Desa Guranteng Endang Bahrum S.Pdi mengatakan kebutuhan pakan ternak sapi sangat potensial. Menurutnya, rumput pakchong dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah.
“Untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi di Guranteng saja masih kurang. Kami memiliki 2000 ekor sapi, ” ungkap Endang saat memberikan sambutan pada acara panen raya Rumput Pakchong di Desa Wisata Gurangteng, Rabu (17/11/2021).
Dalam panen raya tersebut, hadir Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum, Kepala Dinas Pertanian Tasikmalaya, Kapolres Tasikmalaya, Dandim 0612 Tasikmalaya, dan tokoh masyarakat.
Endang menambahkan, saat ini Guranteng memiliki 5 hektare budidaya rumput pakchong. Dan 5 hektar lagi di tempat terpisah, totalnya 10 hektare. Satu ekor sapi membutuhkan pakan 50 kg/hari. Maka dibutuhkan Rumput Pakchong 100 Ton perhari untuk Guranteng saja.
Bagi peternak, rumput pakchong masih kerap dicari sebagai pakan hijauan. Rumput ini memang dinilai berkualitas karena kandungannya yang bagus untuk perkembangan dan pertumbuhan hewan ternak.
“Rumput pakchong memiliki kandungan gizi untuk ternak yang tinggi, terutama protein sebanyak 16,45% lebih tinggi jika dibandingkan dengan rumput Gajahan yang hanya 11,6%, ” ujarnya.
Dari hasil tersebut dapat dipastikan hewan ternak akan terpenuhi nutrisinya dan lekas gemuk saat proses pemeliharaannya.
Bahkan kadar protein yang tinggi pada rumput pakchong juga sangat penting bagi hewan ternak terutama bagi sapi perah untuk menghasilkan susu yang lebih banyak.
Intinya, pakchong memiliki kandungan protein yang lebih banyak daripada rumput gajah lainnya.
Kata Endang, petumbuhan rumput pakchong mampu menghasilkan cukup produksi. Dalam satu hektar lahan, bisa mendapatkan 1,500 ton rumput pertahunnya.
Berbeda dengan rumput taiwan yang hanya 400 ton/ha/tahun dan rumput odot yang hanya mencapai 350 ton/ha/tahun.
Dalam kurun waktu satu tahun rumput gajah asal Thailand ini juga dapat dipanen sebanyak 2 hingga 3 kali.
Lebih lanjut, Endang menambahkan keunggulan rumput pakchong juga ada pada hasil panennya. Untuk hasil panen dari lahan seluas 1ha.
“Secara ekonomi, rumput pakchong ini bisa12 juta/40 hari/hertar, ini sangat potensial untuk dikembangkan, ” ujarnya.
Jika diukur, hasilnya bisa mencapai 450 hingga 600 ton per hektar dalam setahun.
Rumput Pakchong merupakan jenis rumput hibrida yang pertama kali ditanam oleh Prof. Dr. Krailas di daerah Pak Chong, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand.
Ciri fisik dari rumput pakchong yaitu pada bagian daun dan batang tidak ditumbuhi bulu-bulu halus. Sedangkan fisik tinggi tanaman bisa sampai 5 meter dan bisa mencapai umur 9 tahun.
Daun dan batangnya tidak ditumbuhi bulu sehingga sangat disukai oleh hewan ternak. Ini karena daun yang ditumbuhi bulu halus biasanya membuat gatal ketika dimakan.
Selama masa tanam atau musim kering, tanaman ini hanya perlu disiram sekali dalam seminggu.
