Fenomena mengejutkan bisa terjadi saat tubuh mengonsumsi terlalu banyak air dalam waktu singkat. Meski air dikenal sebagai elemen penting bagi kesehatan, kelebihan asupan justru dapat menyebabkan kondisi serius bernama intoksikasi air atau keracunan air.
Kondisi ini terjadi saat jumlah air dalam tubuh melampaui batas normal hingga menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit, terutama natrium. Ketika kadar natrium dalam darah turun drastis (hiponatremia), tubuh mengalami gangguan fungsi sel yang bisa sangat berbahaya.
Siapa Saja yang Rentan Mengalami Intoksikasi Air?
- Penderita skizofrenia berisiko mengalami gangguan persepsi haus yang membuat mereka minum berlebihan. Sistem pengatur cairan dalam otak mereka tidak bekerja secara normal, sehingga konsumsi air bisa melampaui kebutuhan tubuh.
- Bayi di bawah enam bulan juga rentan. Ketika diberi susu formula yang terlalu encer atau air putih dalam jumlah besar, ginjal mereka yang belum berkembang sempurna tidak mampu membuang kelebihan air.
- Atlet, terutama pelari maraton dan peserta triathlon, sering mengalami hiponatremia akibat minum terlalu banyak air selama atau setelah berolahraga berat, tanpa dibarengi asupan elektrolit.
Gejala dan Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Gejala awal keracunan air meliputi mual, lemas, kembung, dan keram otot. Gejala ini kerap dianggap remeh atau disangka kelelahan biasa.
Namun, jika tak segera ditangani, kondisi bisa memburuk menjadi kejang, koma, bahkan kematian. Fungsi ginjal terganggu, dan tekanan dalam sel-sel tubuh meningkat karena kelebihan cairan, termasuk sel otak.
Oleh karena itu, penting untuk minum sesuai kebutuhan tubuh. Bagi bayi, cukup berikan ASI atau susu formula sesuai anjuran tanpa tambahan air. Atlet disarankan minum air putih atau isotonik secara bertahap dan tidak berlebihan. Orang dewasa cukup konsumsi 8–10 gelas air per hari sesuai Pedoman Gizi Seimbang.
Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa menjaga hidrasi tubuh secara optimal tanpa harus menghadapi risiko serius dari kebiasaan yang tampaknya sepele.
