Mojokerto – Air datang seperti tamu tak diundang di hari kemenangan, merendam harapan warga Desa Mejoyo saat gema takbir masih berkumandang. Banjir akibat tanggul jebol mengubah suasana Lebaran menjadi duka, ketika genangan air tak kunjung surut hingga hari ketiga Idul Fitri.
Peristiwa ini terjadi di Desa Mejoyo, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, sejak malam takbiran pada Minggu (23/03/2026). Hujan dengan intensitas tinggi yang turun sejak siang hari menyebabkan debit air sungai meningkat tajam. Tanggul yang tidak mampu menahan tekanan air akhirnya jebol, sehingga air meluap dan merendam permukiman warga. Genangan yang awalnya hanya terlihat di jalan dan halaman rumah, perlahan masuk ke dalam rumah saat malam hari, dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa. Puluhan rumah dilaporkan terdampak dalam kejadian tersebut.
“Dari siang hujan terus, nggak berhenti sampai malam. Air awalnya di jalan, terus masuk rumah dan makin tinggi,” ujar Kapit (23), salah satu warga yang terdampak banjir.
Kondisi ini membuat sebagian warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara sebagian lainnya tetap bertahan di rumah meski dalam keterbatasan. Aktivitas masyarakat pun terganggu, termasuk pelaksanaan ibadah Idul Fitri yang harus dilakukan secara sederhana, baik di lokasi pengungsian maupun di area yang tidak terdampak banjir.
Memasuki hari ketiga Lebaran, air masih menggenangi sejumlah titik di desa tersebut. Curah hujan yang masih turun secara berkala serta belum adanya perbaikan tanggul menjadi faktor utama lambatnya surutnya genangan. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran warga akan potensi banjir susulan jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Selain merendam rumah, banjir juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Beberapa peralatan rumah tangga dan barang berharga dilaporkan rusak akibat terendam air. Akses jalan desa pun sempat terganggu, sehingga mobilitas warga menjadi terbatas.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan darurat, terutama dengan memperbaiki tanggul yang jebol serta melakukan normalisasi aliran sungai guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Di tengah situasi sulit tersebut, semangat kebersamaan tetap terlihat. Warga Desa Mejoyo saling bahu-membahu membantu membersihkan rumah, menyediakan kebutuhan logistik, hingga mendirikan tempat pengungsian sementara. Gotong royong menjadi kekuatan utama dalam menghadapi bencana yang datang di momen hari raya ini.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang kerap terjadi.
