Jakarta – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau dikenal sebagai Surge, mengumumkan rencana penambahan modal melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue, dengan target dana segar senilai Rp5,89 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk memperluas jaringan internet berbasis Fiber To The Home (FTTH) di wilayah Jawa.
Direktur WIFI Shannedy Ong menyatakan bahwa pemegang saham utama, PT Investasi Sukses Bersama, telah menyatakan komitmennya sebagai pembeli siaga dan akan menyerap sisa saham yang tidak diambil investor publik.
“Kami berharap investor dapat menebus HMETD yang dimilikinya. Namun jika tidak, pemegang saham utama kami siap menyerap sisanya,” ujar Shannedy dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (7/7/2025).
Rights issue ini melibatkan penerbitan hingga 2,94 miliar saham baru, setara 55,56 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Dengan harga pelaksanaan Rp2.000 per saham, investor yang memiliki empat saham lama akan memperoleh lima HMETD.
Dana hasil right issue, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk setoran modal ke entitas anak PT Jaringan Infra Andalan (JIA), yang selanjutnya digunakan oleh JIA untuk menyuntikkan dana ke PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE).
“Sekitar Rp5,8 triliun akan dialokasikan untuk membangun jaringan FTTH sebanyak 5 juta homepass di Jawa. Sisanya akan menjadi modal kerja IJE,” jelas Shannedy.
Direktur Utama WIFI Yune Marketatmo menyebut langkah ini sebagai bukti pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Surge saat ini telah bermitra dengan lebih dari 400 ISP lokal untuk membangun konektivitas di 400 stasiun kereta api, yang sebagian besar merupakan pelaku UMKM.
“Kami juga menjalin kemitraan strategis dengan Pertamina melalui PGN dan sejumlah mitra teknologi global seperti Nokia, Forexside, Huawei, Fibercon, dan Qualcomm,” ujar Yune.
Ia menambahkan, perusahaan kini didukung mitra internasional dari Jepang, NTT e-Asia, yang bergabung melalui anak usaha IJE. NTT e-Asia dikenal sebagai salah satu raksasa infrastruktur digital dunia, dengan basis pelanggan FTTH mencapai 25 juta.
“Ini bukan hanya dukungan modal dan teknologi. Ini adalah validasi global atas kredibilitas Solusi Sinergi Digital dan masa depan industri ini di Indonesia,” tegas Yune.
