Jakarta – Dalam upaya memperkuat ketahanan energi dan mendukung transisi menuju energi bersih, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyetujui lima proyek hilirisasi batu bara. Langkah ini merupakan salah satu syarat perpanjangan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
Masa Depan Hilirisasi Batu Bara
“Salah satu syarat perpanjangan izin tambang batu bara adalah memiliki program hilirisasi batu bara,” kata Lana Saria, Staf Ahli Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian ESDM, dalam diskusi bertajuk “Masa Depan Industri Batu Bara di Tengah Tren Transisi Energi” yang berlangsung di Jakarta, Kamis (13/6/2024).
Proyek hilirisasi ini diajukan oleh lima perusahaan terkemuka: PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Arutmin Indonesia, PT Multi Harapan Utama, PT Adaro Indonesia, dan PT Kideco Jaya Agung. Persetujuan ini menandai langkah penting dalam transformasi industri batu bara Indonesia menuju peningkatan nilai tambah dan pengurangan emisi karbon.
Detail Proyek Hilirisasi
KPC dan Arutmin mengajukan proposal gasifikasi batu bara menjadi metanol, dengan kapasitas produksi masing-masing sebesar 1,8 juta ton dan 2,95 juta ton metanol per tahun. Namun, Lana menyatakan bahwa proyek gasifikasi metanol ini kurang memiliki nilai ekonomi yang optimal.
“Beberapa rencana gasifikasi batu bara menjadi metanol akan berganti menjadi gasifikasi batu bara menjadi amonia, karena memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” jelas Lana. Perubahan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan keuntungan dari proyek hilirisasi tersebut.
Selain itu, PT Multi Harapan Utama mengajukan proyek peningkatan nilai tambah berupa semikokas dengan kapasitas produksi 500 ribu ton per tahun. Sementara itu, PT Adaro Indonesia fokus pada proyek pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), dengan kapasitas produksi 2 juta ton metanol dan 1,34 juta ton DME per tahun. Proyek terakhir yang disetujui adalah gasifikasi/underground coal gasification oleh PT Kideco Jaya Agung, dengan kapasitas produksi 100 ribu ton amonia dan 172 ribu ton urea per tahun.
Kendala dan Prospek
Selain kelima proyek yang sudah disetujui, terdapat beberapa perusahaan lain yang masih dalam proses evaluasi, seperti PT Kendilo Coal Indonesia dan PT Berau Coal. Kendilo masih menghadapi masalah hukum, sementara Berau Coal mengajukan rencana gasifikasi batu bara menjadi metanol dengan kapasitas produksi 940 ribu ton per tahun.
Meskipun terdapat tantangan, pemerintah optimis bahwa proyek hilirisasi ini akan memberikan dampak positif bagi ekonomi dan lingkungan. Dengan mengubah batu bara menjadi produk bernilai tambah, Indonesia tidak hanya meningkatkan ketahanan energi, tetapi juga mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran batu bara.
Menuju Energi Bersih
Proyek hilirisasi ini merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk mencapai target emisi nol bersih pada tahun 2060. Dengan mengadopsi teknologi terbaru dan mengoptimalkan sumber daya alam, Indonesia berupaya menjadi pionir dalam transisi energi di kawasan Asia Tenggara.
Dalam diskusi, Lana menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat dalam mewujudkan visi ini. “Kita perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa hilirisasi batu bara tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Lana Saria, Staf Ahli Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian ESDM, mengungkapkan lima perusahaan yang telah disetujui untuk menjalankan proyek hilirisasi batu bara. Berikut adalah rincian proyek hilirisasi yang disetujui pemerintah:
- PT Kaltim Prima Coal
- Kegiatan: Gasifikasi batu bara menjadi metanol, dengan potensi perubahan menjadi amonia.
- Kapasitas: 1,8 juta ton/tahun (Methanol)
- Mulai produksi: Estimasi 2025
- PT Arutmin Indonesia
- Kegiatan: Gasifikasi batu bara menjadi metanol, dengan potensi perubahan menjadi amonia.
- Kapasitas: 2,95 juta ton/tahun (Methanol)
- Mulai produksi: Estimasi 2026
- PT Multi Harapan Utama
- Kegiatan: Semi kokas
- Kapasitas: 1 juta ton/tahun (semi kokas)
- Mulai produksi: Estimasi 2027
- PT Adaro Indonesia
- Kegiatan: Batu bara ke dimethyl ether (DME)
- Kapasitas: 2 juta ton/tahun (Methanol), 1,34 juta ton/tahun (DME)
- Mulai produksi: Estimasi 2027
- PT Kideco Jaya Agung
- Kegiatan: Gasifikasi atau underground coal gasification (USG)
- Kapasitas: 100 ribu ton/tahun (Ammonia), 172 ribu ton/tahun (urea)
- Mulai produksi: Estimasi 2029 dan 2031
Dengan mencontoh strategi hilirisasi batu bara China, Indonesia diharapkan dapat mengurangi emisi karbon dan meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alamnya, sekaligus memastikan ketersediaan energi yang bersih dan berkelanjutan untuk masa depan.
