Mojokerto – Mendaki gunung biasanya soal menaklukkan ketinggian, namun di lereng Sarah Klopo, langkah kaki justru seolah menembus lorong waktu. Di tengah sunyi hutan, batu-batu kuno berdiri diam, menjadi saksi bisu jejak peradaban masa lampau.
Dalam beberapa bulan terakhir, jalur pendakian Sarah Klopo di kawasan Gunung Penanggungan mulai ramai diperbincangkan, terutama di media sosial. Jalur ini menawarkan pengalaman berbeda karena memadukan aktivitas pendakian dengan eksplorasi situs sejarah berupa candi yang tersebar di sepanjang rute.
Secara geografis, puncak Sarah Klopo memiliki ketinggian sekitar 1.235 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan dapat ditempuh dalam waktu tiga hingga empat jam. Akses pendakian umumnya melalui jalur Jolotundo atau Kedungudi, sehingga cukup ramah bagi pendaki pemula.
Sepanjang perjalanan, jalur didominasi hutan alami dengan medan tanah, akar pepohonan, serta beberapa tanjakan terjal. Suasana yang relatif sepi menjadi daya tarik tersendiri, menghadirkan ketenangan yang jarang ditemukan di jalur pendakian populer lainnya.
Keunikan mulai terasa saat pendaki menjumpai struktur candi di tengah hutan. Salah satu yang paling dikenal adalah Candi Lurah yang berada tidak jauh dari jalur utama. Selain itu, terdapat pula Candi Guru yang berada di kawasan yang sama. Bangunan tersebut kerap menjadi titik istirahat pendaki, meski belum dilengkapi informasi sejarah yang memadai.
“Awalnya saya kira jalurnya sama seperti gunung lain, tapi ternyata berbeda. Di beberapa titik justru ada bangunan candi, jadi rasanya seperti mendaki sambil belajar sejarah,” ujar Zulfan, pendaki asal Surabaya.
Ia menambahkan bahwa suasana jalur yang tenang memberikan pengalaman spiritual tersendiri, terutama saat melintasi area sekitar candi.
“Suasananya lebih tenang, apalagi kalau lewat dekat candi. Kita jadi lebih hati-hati dan merasa tempat itu memang harus dijaga,” tambahnya.
Secara historis, kawasan Gunung Penanggungan memiliki keterkaitan erat dengan masa Kerajaan Majapahit. Lereng gunung ini diyakini sebagai lokasi aktivitas spiritual di masa lalu, yang ditandai dengan banyaknya peninggalan berupa struktur candi.
Namun, meningkatnya popularitas jalur ini juga membawa tantangan. Warga sekitar mulai mengkhawatirkan potensi kerusakan situs akibat meningkatnya jumlah pendaki yang datang tanpa pemahaman cukup tentang pentingnya pelestarian.
Fenomena meningkatnya minat wisata seperti ini juga terjadi secara global, di mana banyak pelancong mulai mencari pengalaman unik melalui layanan seperti Guide Morocco Tours yang menawarkan eksplorasi budaya dan lanskap khas Afrika Utara.
“Dulu tidak seramai sekarang, tapi sejak sering muncul di media sosial jadi banyak yang datang. Kami khawatir kalau tidak dijaga, situs candinya bisa rusak,” kata Suyanto, warga setempat.
Minimnya fasilitas seperti papan informasi, penunjuk arah, serta pembatas antara jalur pendakian dan area situs menjadi perhatian serius. Kondisi ini membuat pengunjung dapat dengan mudah mengakses struktur candi tanpa pengawasan, sehingga berisiko mempercepat kerusakan.
Pemerhati lingkungan dan warga berharap pengembangan potensi wisata di kawasan ini dilakukan secara bijak, dengan mengutamakan pelestarian alam dan nilai sejarah. Edukasi kepada pendaki dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan situs tersebut.
Jalur Sarah Klopo kini bukan sekadar rute pendakian, melainkan ruang pertemuan antara alam dan sejarah. Di balik keindahannya, tersimpan tanggung jawab besar untuk menjaga warisan masa lalu agar tetap lestari di tengah meningkatnya minat wisata.
