Mojokerto – Kota Mojokerto memantapkan langkahnya menuju generasi emas tanpa stunting. Penjabat (Pj.) Wali Kota Mojokerto, M. Ali Kuncoro, menegaskan komitmen ini dalam Rembuk Stunting Kota Mojokerto Tahun 2024 yang diadakan di Pendopo Sabha Kridatama, Rumah Rakyat, Senin (18/3/2024).
“Ini adalah salah satu ikhtiar kita untuk mempersiapkan generasi emas di tahun 2045,” kata Ali Kuncoro. “Ini menjadi tanggung jawab semua elemen strategis di Kota Mojokerto, harus gerakan yang harmonis, partnership multihelix, baik pemerintah, TNI-Polri, pengusaha, media, akademisi, semua harus kita libatkan.”
Prestasi dan Inovasi Kota Mojokerto
Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM), Kota Mojokerto menunjukkan penurunan prevalensi stunting yang signifikan selama 4 tahun terakhir. Dari 9,04% di tahun 2019, turun menjadi 2,04% di tahun 2023, atau setara dengan 122 balita stunting dari total 6.145 balita.
Pada Februari 2024, angka stunting kembali turun menjadi 2% atau 117 balita. Pencapaian ini mengantarkan Kota Mojokerto meraih predikat “Kota Terinovatif” di tahun 2023, dengan inovasi Canting Gula Mojo (Cegah Stunting, Gerak Unggul Pemberdayaan Masyarakat Kota Mojokerto) dan Gempa Genting (Segenggam Sampah Gawe Stunting).
Target Zero New Stunting 2024
Komitmen Pemkot Mojokerto tidak berhenti di situ. Ali Kuncoro menegaskan target Zero New Stunting di tahun 2024. Penandatanganan komitmen bersama dan ikrar menjadi bukti keseriusan Pemkot dalam mewujudkan generasi emas tanpa stunting.
“Kita tadi sudah melakukan penandatanganan komitmen bersama dan berikrar bahwa tahun 2024 Kota Mojokerto harus menjadi kota yang Zero New Stunting,” ujar Ali Kuncoro.
Sebagai komitmen nyata, Pemkot Mojokerto mengalokasikan anggaran sebesar Rp 98,2 miliar untuk penanganan stunting di tahun 2024. Upaya ini melibatkan hampir semua OPD dan dilakukan secara masif, spesifik, sensitif, dan koordinatif.
Kerja Sama Menuju Generasi Emas
Pj. Wali Kota Mojokerto optimistis target Zero New Stunting dapat tercapai dengan kerja sama semua pihak. “Saya pikir kita pasti bisa menyelesaikan permasalahan ini, asalkan kita lakukan secara masif, spesifik, sensitif, dan koordinatif dan bersifat sapu jagat,” tandasnya.
Langkah nyata dan komitmen tinggi Kota Mojokerto menjadi contoh bagi daerah lain dalam memerangi stunting dan membangun generasi emas yang sehat dan cerdas.
