Tasikmalaya – Ribuan warga memadati kawasan wisata Cipanas Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, pada puncak penutupan Memory of Galunggung (MoG) 2026, Minggu (26/4/2026). Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi ketika peserta mengikuti Gerak Jalan Tematik Galunggung 82, sebuah kegiatan yang tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga mengajak peserta menelusuri jejak sejarah letusan Gunung Galunggung yang mengubah wajah Tasikmalaya lebih dari empat dekade lalu.
Gerak jalan menjadi penanda berakhirnya rangkaian MoG 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora). Peserta menempuh rute dari kawasan Cipanas menuju Kawah Galunggung hingga Bukit Nangreu, melintasi jalur dengan tanjakan dan panorama pegunungan yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Kegiatan itu tidak hanya menghadirkan pengalaman wisata olahraga, tetapi juga memperkenalkan kembali nilai sejarah Gunung Galunggung kepada masyarakat. Letusan besar pada 1982 yang pernah membawa dampak luas bagi kehidupan warga kini dipandang sebagai bagian dari identitas daerah sekaligus modal untuk mengembangkan sektor pariwisata berbasis edukasi dan kebudayaan.
Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, mengatakan penyelenggaraan MoG memiliki makna lebih dari sekadar agenda tahunan. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur atas perubahan yang terjadi setelah erupsi Gunung Galunggung, yang kini menghadirkan potensi alam dan ekonomi bagi masyarakat.
“Perhelatan MoG tahun ini bukan sekadar seremoni tanpa makna. Ini adalah refleksi rasa syukur atas anugerah yang kini dinikmati masyarakat dari peristiwa erupsi besar tahun 1982,” ujar Cecep Nurul Yakin saat penutupan MoG 2026 di kawasan Cipanas Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (26/4/26).
Ia menegaskan bahwa sektor pariwisata menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menempatkan kawasan Galunggung sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang diharapkan mampu menggerakkan berbagai sektor, mulai dari jasa, perdagangan, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menempatkan pariwisata sebagai lokomotif utama ekonomi warga. Galunggung akan kami optimalkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang terintegrasi,” katanya.
Selain pengembangan infrastruktur wisata, pemerintah juga mulai mendorong transformasi digital dalam pengelolaan destinasi. Salah satu langkah yang dipersiapkan adalah penerapan sistem pembayaran non-tunai untuk meningkatkan efisiensi transaksi sekaligus memberikan kenyamanan bagi wisatawan.
“Kami juga akan mendorong digitalisasi, termasuk sistem pembayaran non-tunai, agar pengelolaan wisata lebih transparan, modern, dan memudahkan wisatawan,” tambah Cecep.
Suasana penutupan MoG 2026 semakin meriah dengan pembebasan tiket masuk kawasan wisata, pertunjukan seni tradisional, serta panggung hiburan yang melibatkan seniman lokal. Di sisi lain, panitia juga menggelar kegiatan penebaran benih ikan sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian lingkungan di kawasan wisata Galunggung.
Puluhan stan UMKM turut meramaikan acara dengan menawarkan beragam produk kuliner, kerajinan, hingga hasil olahan khas Tasikmalaya. Ramainya pengunjung memberikan dampak langsung terhadap peningkatan penjualan pelaku usaha lokal, memperlihatkan bagaimana kegiatan budaya dan pariwisata dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sebelum mencapai puncak acara, MoG 2026 telah diisi berbagai kegiatan yang memadukan unsur sejarah, olahraga, budaya, dan spiritual. Di antaranya istigasah, Galunggung Silat Fest, Trail Run, hingga peluncuran buku Tapak Galunggung yang mengangkat perjalanan sejarah kawasan tersebut.
Gunung Galunggung memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia. Erupsi besar pada 1982 meninggalkan jejak yang mendalam, namun seiring waktu kawasan ini berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Tasikmalaya. Kawah vulkanik, pemandian air panas, panorama pegunungan, serta kekayaan budaya masyarakat di sekitarnya menjadi daya tarik yang terus dikembangkan untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Penyelenggaraan Memory of Galunggung menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu dikenang sebagai kisah bencana. Melalui pendekatan budaya, edukasi, dan pariwisata, pengalaman masa lalu dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan warga, kawasan Galunggung diharapkan terus tumbuh sebagai destinasi wisata yang tidak hanya indah dikunjungi, tetapi juga memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.
