Hoaks kesehatan seringkali lebih cepat menyebar daripada informasi yang valid. Di era TikTok dan Instagram Reels, konten yang viral biasanya disajikan dalam bentuk narasi emosional, visual dramatis, dan jargon medis yang terdengar meyakinkan.
Sayangnya, banyak dari informasi itu tidak punya dasar ilmiah yang kuat, apalagi jika topiknya sensitif seperti kanker payudara.
Viral Tapi Menyesatkan
Banyak orang percaya bahwa kanker payudara hanya menyerang perempuan. Padahal, meski sangat jarang, pria juga bisa mengalaminya. WHO mencatat bahwa sekitar 0,5 hingga 1 persen kasus kanker payudara terjadi pada pria. Ini bukti bahwa persepsi umum yang selama ini diyakini belum tentu benar.
Contoh lain adalah kepercayaan bahwa penggunaan deodoran, terutama yang mengandung aluminium, bisa menyebabkan kanker.
Teori ini menyebar luas, tetapi studi-studi medis tidak menemukan bukti kuat untuk mendukung klaim tersebut. American Cancer Society bahkan menegaskan bahwa tidak ada hubungan langsung antara deodoran dan kanker payudara.
Kita juga sering mendengar klaim bahwa memakai bra ketat atau berkawat bisa menyumbat aliran limfa dan menyebabkan kanker. Ini pun tidak didukung penelitian ilmiah. Studi besar tidak menemukan kaitan antara jenis bra yang digunakan dan risiko kanker payudara.
Narasi lain yang cukup membingungkan publik adalah kekhawatiran bahwa mammogram atau pemeriksaan payudara rutin bisa menyebabkan kanker karena radiasinya.
Faktanya, radiasi dalam prosedur ini sangat rendah dan manfaat skrining jauh lebih besar dibanding risikonya. Skrining membantu mendeteksi kanker lebih awal, ketika peluang sembuh masih tinggi.
Ada juga mitos seputar menyusui. Memang benar bahwa menyusui dapat menurunkan risiko kanker payudara, tapi bukan berarti menjadi jaminan total. Banyak faktor lain yang berperan, seperti genetika, gaya hidup, dan usia. Jadi, menyusui bukan “perisai ajaib” yang bisa menjauhkan seseorang dari risiko kanker.
Klaim soal pengobatan alternatif juga marak, mulai dari pijat khusus, herbal, hingga ramuan rahasia yang katanya bisa menyembuhkan kanker tanpa perlu kemoterapi.
Sekali lagi, ini sangat berbahaya. Pengobatan kanker harus berdasarkan diagnosis medis dan penanganan yang sudah teruji. Mengandalkan metode yang belum terbukti justru bisa memperburuk kondisi pasien.
Dan yang tak kalah mengejutkan, masih ada yang percaya bahwa kanker payudara itu menular. Ini jelas keliru. Kanker bukan penyakit infeksi, dan tidak bisa menyebar melalui kontak fisik, udara, atau makanan. Stigma seperti ini bisa menambah beban psikologis pasien yang seharusnya mendapat dukungan.
Mengapa Kita Gampang Percaya?
Salah satu penyebab utama maraknya hoaks adalah rendahnya literasi digital. Di media sosial, konten yang menggetarkan emosi lebih mudah dipercaya ketimbang tulisan panjang dengan referensi ilmiah.
Kalimat seperti “dokter tidak mau bilang ini karena…” atau “rahasia yang disembunyikan industri medis” terdengar menarik dan membangkitkan rasa ingin tahu, tapi sering kali tidak berdasar.
Sebagian besar orang juga malas memverifikasi, terutama jika informasi tersebut datang dari akun yang terlihat meyakinkan atau dari teman dekat. Akibatnya, hoaks terus bergulir tanpa henti.
Cara Sederhana Cek Fakta di Medsos
Literasi digital bisa menjadi senjata ampuh untuk melawan informasi palsu. Pertama, selalu periksa sumber informasi. Apakah berasal dari lembaga medis resmi seperti WHO, American Cancer Society, atau situs rumah sakit terpercaya? Jika tidak, informasi tersebut patut diragukan.
Kedua, lihat tanggal publikasinya. Dunia medis selalu berkembang, dan informasi lima tahun lalu bisa jadi sudah tidak relevan. Ketiga, periksa apakah informasi itu konsisten dengan panduan dari institusi kesehatan global. Bila ada perbedaan mencolok, lebih baik abaikan dulu sampai dapat klarifikasi dari tenaga medis.
Terakhir, kalau masih ragu, jangan cari jawabannya di kolom komentar. Konsultasikan langsung ke dokter, perawat, atau tenaga medis terpercaya. Jangan sampai informasi keliru membuat kita mengambil keputusan yang salah untuk kesehatan diri sendiri atau orang terdekat.
Skrining kanker payudara sebaiknya dimulai sejak usia 40 tahun, atau lebih awal jika memiliki riwayat keluarga. Pemeriksaan tidak hanya berupa mammogram, tapi juga bisa dimulai dari pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara rutin. Jika ditemukan benjolan, perubahan bentuk, warna kulit payudara, atau cairan tak biasa dari puting, segera periksakan ke dokter.
Faktor risiko lain seperti obesitas, konsumsi alkohol, terapi hormon pascamenopause, atau paparan radiasi juga perlu diperhatikan. Tidak ada salahnya mendiskusikan risiko pribadi dengan tenaga medis untuk menentukan langkah pencegahan terbaik.
Jangan Hanya Simpan, Sebarkan yang Benar
Mengenali mana mitos dan mana fakta soal kanker payudara bukan hanya penting untuk diri sendiri, tapi juga untuk lingkungan sekitar. Saat kamu tahu informasi yang benar, jangan ragu untuk menyebarkannya. Laporkan hoaks jika melihatnya di medsos, dan edukasi orang terdekat agar tidak tertipu narasi palsu.
Karena di era digital, setiap orang bisa jadi penyaring informasi, bukan sekadar penyebar. Dan jika kita semua ikut menjaga agar yang viral adalah yang faktual, kita sudah berkontribusi besar untuk kesehatan bersama.
