Surabaya – Salah satu jaringan grup hotel di Indonesia, Midtown, menyediakan pembekalan budaya tunarungu (tuli) dan bahasa isyarat untuk menambah ilmu baru dan memperluas wawasan bagi karyawannya yang berada di Surabaya, Jawa Timur (20/8/2024).
Selain itu, Corporate General Manager Midtown Hotels Indonesia Dony Manuarva mengatakan program pengenalan budaya tuli dan bahasa isyarat ini. Berharap prgram tersebut bisa menjadikan nilai lebih bagi profesi pekerja bidang perhotelan. Hal ini bertujuan untuk pegawai supaya mampu berkomunikasi dengan baik kepada semua tamu yang datang tanpa terkecuali.
“Seperti tamu yang berkebutuhan khusus termasuk teman tuli,” kata Dony di Surabaya, Selasa (20/8/2024).
Midtown Hotels Latih 20 Karyawan dengan TIBA dan TATULI
Program tersebut, kata dia, menggandeng Tim Bisindo Dan Aksesibilitas Surabaya (TIBA) dan Cerita Teman Tuli (TATULI) Surabaya. Peserta kegiatan tersebut sekitar 20 peserta. Peserta-peserta tersebut dari Midtown Hotel Surabaya, Midtown Residence Surabaya, Crown Prince Hotel Surabaya dan Verwood Hotel & Serviced Residence Surabaya.
“Mulai dari tim resepsionis, pramusaji, tim human resources, kepala departemen restoran hingga general manager semua ikut program ini,” katanya.
Sementara itu, Corporate Public Relations Midtown Hotels Indonesia Kus Andi. Ia mengajak semua karyawan untuk selalu berkomunikasi dengan dua arah kepada semua tamu. Dalam hal ini tidak terkecuali teman tuli.
“Mari berkomunikasi dua arah, bukan hanya teman tuli saja yang berusaha untuk mengerti namun kami sebagai teman dengar juga harus mampu beradaptasi dengan budaya teman tuli,” katanya.
Pelatihan Bahasa Isyarat Tingkatkan Layanan Midtown Hotel
Dalam kesempatan yang sama, salah seorang peserta yang juga resepsionis hotel Midtown Residence Surabaya Fitri. Ia mengatakan workshop tersebut ialah modal sebagai melayani dan membantu para tamu, khususnya bagi teman tuli.
“Ini pengalaman pertama belajar bahasa isyarat yang nantinya bisa membantu saya sebagai resepsionis hotel. Mereka dulu sudah pernah beberapa kali mendapati tamu tuli, karena keterbatasan pemahaman kami berkomunikasi hanya melalui tulisan. Maka, dengan pengetahuan baru ini walaupun masih sedikit paling tidak bisa membuat tamu tuli lebih merasa nyaman nantinya,” ujarnya.
