Jejak yang hilang itu tersembunyi selama berabad-abad di antara ladang, pemukiman, dan rerimbun pepohonan Mojokerto. Trowulan—kawasan yang kini dikenal sebagai situs arkeologi terbesar di Asia Tenggara—dulunya hanyalah desa biasa yang tak disangka pernah menjadi pusat kekuasaan Nusantara. Inilah kisah tentang bagaimana Trowulan yang terlupakan, ditemukan kembali sebagai kota legendaris Majapahit.
Trowulan: Kota yang Menghilang dari Peta
Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15, pusat pemerintahannya perlahan lenyap ditelan waktu. Berbeda dengan kota-kota tua lain seperti Yogyakarta atau Surakarta, Majapahit tak meninggalkan kota yang terus hidup. Sebaliknya, Trowulan menghilang, berganti ladang dan pemukiman warga. Tak ada yang tahu pasti di mana letak istana, pelabuhan, atau tembok kota Majapahit.
Nama “Trowulan” nyaris tak muncul dalam peta kolonial awal. Baru pada abad ke-19, para peneliti Eropa mulai mencurigai bahwa kawasan ini menyimpan jejak besar.
Pencarian Arkeologis Pertama: Tim Raffles
Tahun 1815, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Sir Thomas Stamford Raffles, menyusun buku monumental The History of Java. Dalam salah satu perjalanannya ke daerah Mojokerto, Raffles mendengar kabar tentang reruntuhan candi dan kolam kuno yang ditemukan warga.
Ia mengutus tim untuk menyelidiki, dan dari sinilah upaya pencarian situs Majapahit dimulai secara sistematis. Salah satu situs pertama yang ditemukan adalah Kolam Segaran—waduk luas berukuran 800 x 500 meter dengan konstruksi batu bata yang luar biasa presisi.
“Kami mendapati sebuah kolam besar, dibangun dari bata merah yang sangat halus. Jelas ini bukan pekerjaan sembarangan,”
— Catatan ekspedisi Raffles, 1815.
Penemuan Candi dan Struktur Kota
Setelah Raffles, proses penggalian dan penelitian berlanjut di bawah arkeolog Belanda. Mereka menemukan beberapa struktur penting:
- Candi Tikus, sebuah sistem pemandian bawah tanah dengan drainase rumit.
- Candi Bajangratu, gerbang megah dengan ukiran halus, diyakini pintu masuk area kerajaan.
- Candi Wringinlawang, gerbang merah simetris yang menjulang setinggi 13 meter.
Batu bata yang ditemukan di Trowulan memiliki ukuran dan kepadatan yang jauh lebih baik dari bata modern. Para peneliti menyimpulkan, masyarakat Majapahit telah menguasai teknik pembuatan material konstruksi yang sangat maju.
Di bawah tanah, terungkap pula pola jalan, parit, kanal, bahkan sistem sanitasi. Inilah bukti bahwa Trowulan bukan sekadar kota, tetapi ibu kota kerajaan yang dirancang dengan visi tata kota luar biasa.
Revitalisasi dan Penelitian Modern
Memasuki era Indonesia merdeka, pencarian terhadap kejayaan Majapahit dilanjutkan oleh Balai Arkeologi Nasional. Pemerintah menetapkan Trowulan sebagai Cagar Budaya Nasional.
Penelitian tahun 1980-an hingga kini berhasil memetakan luas kota Majapahit yang diperkirakan mencapai 9 x 11 km persegi. Ini menjadikannya kota kuno terluas di Asia Tenggara masa abad pertengahan.
Hingga hari ini, proses ekskavasi masih terus berlangsung, mengingat sebagian besar kawasan Trowulan telah menjadi permukiman penduduk. Tantangan utama adalah menyeimbangkan antara pelestarian warisan budaya dan kebutuhan hidup masyarakat modern.
Trowulan dan Peran Mojokerto dalam Peta Sejarah Nasional
Trowulan bukan sekadar lokasi arkeologi. Ia menjadi simbol bahwa Mojokerto bukan kota biasa, melainkan tanah lahirnya peradaban besar Nusantara.
Setiap temuan batu bata, gerabah, dan relief adalah potongan puzzle sejarah yang memperkuat identitas lokal dan nasional. Dari sinilah kita tahu bahwa Majapahit tidak hanya legenda, tapi nyata dan pernah berdiri megah di tengah Jawa Timur.
“Jika kita ingin mengenali siapa kita hari ini, maka telusurilah Trowulan. Di sanalah akar peradaban kita ditanam,”
— Dr. Mundardjito, arkeolog Universitas Indonesia.
Tantangan dan Masa Depan Warisan Majapahit
Sayangnya, tak semua masyarakat menyadari nilai strategis kawasan ini. Sejumlah situs terancam oleh pembangunan liar, minimnya pendanaan konservasi, dan kurangnya edukasi publik.
Namun upaya pelestarian tetap berjalan. Festival tahunan “Spirit of Majapahit”, museum, edukasi sekolah, dan komunitas sejarah lokal terus membumikan nilai-nilai kejayaan masa lalu. Generasi muda Mojokerto kini punya alasan kuat untuk bangga dengan kotanya.
Kota yang Pernah Menghilang, Kini Ditemukan Kembali
Trowulan adalah pengingat bahwa sejarah bisa hilang, tetapi tidak akan pernah lenyap. Ia hanya menunggu untuk ditemukan kembali oleh mereka yang bersedia menggali, membaca, dan merawatnya.
Mojokerto hari ini adalah hasil dari upaya pelestarian masa lalu. Semakin kita mengenal Trowulan, semakin kita mengenal diri kita sebagai bangsa.
