Mojokerto – Lantunan syair pujian yang mengalun lembut bagaikan embusan angin malam menutup rangkaian ibadah Ramadan di Desa Kepuhpandak, Kecamatan Kutorejo. Jamaah musala setempat mengakhiri kegiatan tadarus Al-Qur’an dengan pembacaan Maulid Diba’ yang berlangsung penuh khidmat dan sarat makna spiritual.
Kegiatan ini digelar pada Rabu (18/03/2026) di salah satu musala desa, diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan. Pembacaan Maulid Diba’ menjadi penutup tradisi tadarus yang telah dilaksanakan sepanjang bulan Ramadan. Suasana religius terasa begitu kental saat syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW dilantunkan bersama, menciptakan ketenangan batin sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga. Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual ibadah, tetapi juga simbol rasa syukur atas kesempatan menuntaskan bacaan Al-Qur’an selama Ramadan.
Maulid Diba’ sendiri merupakan kitab berisi syair, shalawat, serta kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW yang disusun oleh Imam Ibnu Diba’i. Pembacaannya diyakini mampu menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW, sekaligus menjadi sarana untuk meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
“Setiap lantunan Maulid Diba’ menenangkan hati dan memperkuat iman. Tradisi ini selalu menjadi penutup khataman Al-Qur’an setiap akhir Ramadhan,” ujar Izza (27), salah satu jamaah yang mengikuti kegiatan tersebut.
Menurutnya, momen ini tidak hanya menjadi penutup ibadah, tetapi juga sarana refleksi diri setelah menjalani bulan penuh berkah. Ia merasakan kedamaian tersendiri setiap kali mengikuti pembacaan Maulid Diba’ bersama warga lainnya.
“Kegiatan ini mengajarkan syukur, ukhuwah, dan meneladani Nabi. Maulid Diba’ juga mempererat silaturahmi antarwarga dan menjaga nilai spiritual turun-temurun,” tambah Ibu Saodah, tokoh masyarakat setempat.
Selain pembacaan Maulid Diba’, kegiatan ini juga diiringi dengan hidangan sederhana sebagai bentuk syukuran. Warga saling berbagi makanan sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur, meski fokus utama tetap pada ibadah dan makna spiritual dari kegiatan tersebut.
Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Kepuhpandak. Di tengah perkembangan zaman, nilai-nilai religius seperti ini tetap dijaga sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus penguatan spiritual komunitas.
Dengan berakhirnya rangkaian tadarus melalui pembacaan Maulid Diba’, masyarakat berharap keberkahan Ramadan tetap melekat dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini pun meninggalkan kesan mendalam berupa ketenangan hati, kebersamaan, serta semangat untuk terus meningkatkan keimanan.
