Tasikmalaya – Sejarah perjuangan memperoleh hak pendidikan kembali dihidupkan melalui layar lebar oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Siliwangi. Melalui film semi-dokumenter berjudul Taman Siswa, mereka mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, memahami perjalanan panjang lahirnya pendidikan nasional yang tidak lepas dari gagasan dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara.
Film tersebut diputar dalam rangkaian kegiatan Sinergi & Mozaik Karya Priangan Timur yang berlangsung di Gedung Muhammad Nu’man Soemantri, Kampus 1 Universitas Siliwangi, pada Rabu hingga Kamis, 20–21 Mei 2026. Pemutaran karya itu menjadi salah satu agenda yang paling banyak menarik perhatian pengunjung karena mengangkat tema sejarah melalui pendekatan sinematik yang dekat dengan kalangan muda.
Kisah yang dihadirkan berfokus pada perjuangan Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 1922. Lembaga pendidikan tersebut lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial Hindia Belanda yang pada masa itu hanya memberikan akses kepada kalangan tertentu, terutama kaum bangsawan dan kelompok elite.
Pimpinan produksi film, Cep Dimas, mengatakan tema tersebut dipilih karena mahasiswa pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan masyarakat bahwa sistem pendidikan yang dinikmati saat ini lahir melalui perjuangan panjang para tokoh bangsa.
“Kami duduk di FKIP, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan kami ingin semua orang tahu bahwasanya pendidikan yang terlahir sekarang memiliki perjalanan panjang,” ujar Cep Dimas saat kegiatan Sinergi & Mozaik Karya Priangan Timur di Gedung Muhammad Nu’man Soemantri, Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Rabu (20/5/26).
Menurutnya, film tersebut juga menggambarkan kondisi pendidikan pada masa kolonial ketika masyarakat pribumi menghadapi keterbatasan untuk memperoleh pendidikan formal. Dari situ lahir gagasan Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagai ruang belajar yang terbuka bagi rakyat.
“Taman Siswa hadir untuk menghimpun masyarakat pribumi yang ingin mendapatkan akses pendidikan,” kata Dimas.
Yang menarik, seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa. Mulai dari penyusunan konsep, riset sejarah, penulisan naskah, pencarian lokasi, penyediaan kostum, proses pengambilan gambar, hingga penyuntingan dilakukan secara swadaya sebagai bagian dari pembelajaran praktik di bidang sejarah dan perfilman.
“Setiap anggota patungan Rp50 ribu untuk produksi film ini,” ungkap Dimas.
Ia menjelaskan proses produksi memerlukan waktu lebih dari tiga bulan. Selain mempelajari berbagai referensi sejarah, tim juga berupaya menghadirkan suasana yang mendekati kondisi pada masa awal abad ke-20 agar pesan sejarah yang disampaikan terasa lebih kuat dan mudah dipahami penonton.
Tidak hanya mengangkat kisah masa lalu, film Taman Siswa juga menghadirkan refleksi terhadap dunia pendidikan masa kini. Melalui narasi yang dibangun, mahasiswa mencoba mengajak penonton melihat bahwa tantangan pendidikan belum sepenuhnya berakhir. Kebebasan berpikir, menyampaikan pendapat, dan membangun budaya akademik yang sehat masih menjadi isu yang terus relevan untuk diperbincangkan.
“Pendidikan seharusnya membebaskan pikiran, tetapi masih ada aturan-aturan yang membatasi kebebasan berpendapat,” ujar Dimas.
Pemanfaatan media film sebagai sarana pembelajaran sejarah menjadi pendekatan yang semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital. Melalui karya audiovisual, materi sejarah yang selama ini identik dengan buku pelajaran dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik, emosional, dan mudah dipahami oleh generasi muda.
Bagi mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Siliwangi, proyek ini tidak hanya menjadi tugas akademik, tetapi juga bentuk kontribusi dalam merawat ingatan kolektif bangsa. Kisah perjuangan Ki Hadjar Dewantara dipandang tetap relevan karena mengingatkan bahwa hak memperoleh pendidikan merupakan hasil perjuangan panjang yang tidak datang dengan sendirinya.
Melalui film Taman Siswa, para mahasiswa berharap masyarakat semakin memahami makna pendidikan sebagai jalan membangun kemerdekaan berpikir dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan mengenal sejarah lahirnya pendidikan nasional, generasi muda diharapkan tidak hanya menghargai jasa para pendahulu, tetapi juga terdorong untuk terus menjaga nilai-nilai pendidikan yang inklusif, kritis, dan berpihak pada kemajuan masyarakat.
