Jember – Sore di Ambulu terasa magis. Langit jingga keemasan seolah menyatu dengan debur ombak Pantai Watu Ulo yang menghempas karang berliku seperti sisik ular raksasa. Di sinilah, menurut kepercayaan warga setempat, seekor naga besar bernama Nogo Rojo pernah naik ke daratan sebelum tubuhnya berubah menjadi batu. Dari kisah itulah nama Watu Ulo — yang berarti batu ular — lahir dan hidup turun-temurun di hati masyarakat pesisir selatan Jember.
Ansori, penjaga pantai yang telah dua puluh enam tahun bertugas di kawasan ini, mengisahkan legenda itu dengan nada khidmat. “Konon, di sinilah dulu seekor Nogo Rojo, naga besar dari Laut Selatan, naik ke daratan untuk beristirahat. Namun kemudian tubuhnya berubah menjadi batu,” ujarnya sambil menatap ombak yang berkejaran di bawah sinar senja.
Menurut cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, tubuh sang naga terpisah menjadi tiga bagian: kepala di Pantai Grajagan (Banyuwangi), badan di Watu Ulo (Jember), dan ekor di Pacitan. Bagi masyarakat setempat, kisah ini bukan sekadar legenda, melainkan simbol keseimbangan antara manusia dan alam.
“Kalau laut marah, itu tanda sang naga bergerak. Ia bukan makhluk nyata, tapi penjaga alam,” lanjut Ansori lirih.
Kepercayaan ini tetap hidup melalui Upacara Larung Sesaji yang digelar setiap tahun di Pantai Watu Ulo. Ritual ini merupakan bentuk penghormatan terhadap penjaga laut sekaligus ungkapan syukur atas limpahan rezeki dari alam. “Kami tidak menyembah naga, tapi menghormati maknanya. Ia lambang keseimbangan alam. Kalau manusia serakah, laut bisa murka,” tambahnya.
Selain batu berliuk menyerupai tubuh naga, kawasan ini juga menyimpan cerita mistis lain: keberadaan sumur tua yang dipercaya sebagai pintu menuju keraton Nyi Roro Kidul. Ansori mengaku pernah melihat susunan batu menyerupai bangunan kuno di sekitar lokasi itu pada tahun 1999. Meski begitu, keyakinan semacam larangan memakai warna merah atau hijau kini mulai memudar.
Siti, koordinator wisata Pantai Watu Ulo, menyebut bahwa masyarakat kini lebih terbuka terhadap wisata modern. “Dulu banyak yang takut. Sekarang orang datang untuk berfoto, menikmati laut, dan mengenal cerita rakyatnya. Tak ada lagi pantangan warna,” ujarnya.
Waktu dan ombak memang mengubah bentuk batu panjang yang dulunya tampak jelas — sebagian kini tertutup pasir. Namun daya tariknya tak luntur. Watu Ulo tetap menjadi magnet wisata sekaligus ruang refleksi bagi banyak orang.
“Saya sering ke sini bersama suami. Suasananya damai, anginnya sejuk, dan pemandangannya menenangkan,” kata Yayuk Yohanes, wisatawan asal Balung Lor, sambil tersenyum menikmati panorama pantai.
Legenda naga, riuh ombak, dan batu berliku di tepi laut membentuk harmoni antara alam dan budaya. Di Watu Ulo, mitos bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan napas kehidupan yang menjaga keseimbangan antara manusia dan semesta.
