Warisan perairan luas yang dimiliki Kutai Timur menyimpan masa depan cerah bagi dunia perikanan Indonesia. Terletak di perairan Selat Makassar dan Laut Sulawesi, kawasan ini berada tepat di jalur pelayaran internasional ALKI II—membuka peluang besar untuk menjadi pusat ekonomi maritim yang baru.
Saat ini, sektor perikanan di Kutai Timur masih didominasi oleh metode tangkap tradisional. Para nelayan setempat menggunakan alat seperti lift nets, jaring, hingga kail panjang (long lines). Ikan-ikan yang umum ditangkap antara lain gabus, patin, nila, lele bawal merah, dan lele Filipina.
Menurut data dari penelitian perikanan lokal, terdapat sekitar 6.800 hingga 7.500 nelayan aktif yang menggantungkan hidup pada sektor ini. Namun, belum ada upaya signifikan untuk mengubah potensi ini menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan dan modern.
“Kutai Timur punya semua elemen penting: lokasi strategis, kekayaan biota, hingga tenaga kerja tradisional yang siap berkembang,” ujar seorang peneliti kelautan dari Universitas Mulawarman. Ia menekankan pentingnya investasi dan pelatihan teknologi untuk memberdayakan nelayan lokal.
Salah satu penopang penting bagi perikanan air tawar di wilayah ini adalah Lahan Basah Mesangat Suwi (LBMS). Terletak di sub-DAS Kedang Kepala, LBMS ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) seluas lebih dari 13.500 hektare. Selain menjadi habitat ikan air tawar, kawasan ini juga rumah bagi spesies langka seperti buaya siam dan bekantan.
Meski kaya sumber daya, pengembangan infrastruktur perikanan seperti tambak modern, tempat pelelangan ikan, dan akses pasar masih tergolong minim. Banyak wilayah di pesisir seperti Bengalon, sebenarnya berpotensi menjadi sentra budidaya perikanan, namun masih menunggu perhatian lebih lanjut dari pemerintah dan investor.
Kabar baiknya, pemerintah daerah telah menunjukkan sinyal positif. Beberapa rencana tata ruang dan pengembangan kawasan pesisir mulai mengarah pada revitalisasi sektor perikanan sebagai kekuatan ekonomi baru Kutai Timur. Jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan konservasi, perikanan di Kutai Timur bisa menjadi contoh nasional.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan pendekatan yang lebih modern, Kutai Timur tak hanya akan dikenal karena hasil tambangnya, tetapi juga sebagai lumbung perikanan strategis di kawasan timur Indonesia. Masa depan maritim Indonesia mungkin saja dimulai dari sini.
