Surabaya – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan rasa syukurnya atas penurunan signifikan angka kemiskinan di Jawa Timur, dalam pernyataannya di Surabaya, Senin (8/7/2024).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, angka kemiskinan di Jawa Timur mencapai 9,79 persen per Maret 2024.
“Alhamdulillah! Data dari BPS menunjukkan angka kemiskinan di Jawa Timur turun signifikan hingga Maret 2024 menjadi 9,79 persen,” jelasnya.
Penurunan Kemiskinan Jawa Timur Capai Angka Tertinggi
Penurunan kemiskinan di Jawa Timur ini merupakan yang tertinggi di antara provinsi lainnya. Selain itu, di Pulau Jawa penurunan sebesar 206.120 jiwa atau 0,56 persen secara persentase.
Selain itu, penurunan kemiskinan di Jawa Timur juga tercatat sebagai yang tertinggi di tingkat nasional. Diikuti oleh Provinsi Jawa Tengah dengan penurunan 87.170 jiwa, Provinsi Sumatera Selatan dengan penurunan 61.440 jiwa, dan Provinsi Sulawesi Selatan dengan penurunan 52.370 jiwa.
“Saat awal menjabat, angka kemiskinan di Jawa Timur berada di angka 10,2 persen. Karena pandemi, angka tersebut naik menjadi 11,46 persen. Kami kemudian berupaya keras untuk menurunkan angka kemiskinan melalui berbagai program hingga mencapai 9,79 persen pada Maret 2024,” tambah Khofifah.
Upaya Khofifah Menurunkan Angka Kemiskinan
Rincian penurunannya adalah angka kemiskinan di Jawa Timur pada Maret 2019 sebesar 10,37 persen, naik menjadi 11,40 persen pada Maret 2021 akibat pandemi COVID-19. Kemudian, turun menjadi 10,38 persen pada Maret 2022, turun lagi menjadi 10,35 persen pada Maret 2023, dan turun signifikan sebesar 0,56 persen pada Maret 2024 menjadi 9,79 persen.
Selama masa kepemimpinannya, Khofifah melaksanakan berbagai program untuk menurunkan angka kemiskinan. Program tersebut termasuk pemberian bantuan PKH Plus kepada 50 ribu keluarga setiap tahun. Bantuan ini dalam bentuk bantuan uang sebesar Rp2 juta per tahun.
Selain itu, Khofifah juga menginisiasi Program renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), dengan 33.745 rumah direnovasi sejak 2019 hingga 2023. Pertama, ia menggunakan anggaran sebesar Rp402 miliar bekerja sama dengan Kodam V/Brawijaya. Kedua, bekerja sama dengan Lantamal V Surabaya Program Elektrifikasi untuk 16.780 Rumah Tangga Miskin.
Penurunan kemiskinan juga didukung oleh peningkatan pendapatan penduduk miskin melalui kegiatan usaha produktif yang didukung oleh permodalan UMKM. Program Prokesra, dengan plafon maksimal Rp50 juta per debitur, telah memberikan pinjaman murah kepada 8.941 Usaha Mikro Kecil (UMK) dengan subsidi bunga. Oleh karena itu, pelaku usaha hanya menanggung bunga pinjaman sebesar 3 persen per tahun dengan jangka kredit maksimal 36 bulan.
“Kami juga aktif memberikan bantuan melalui program Jatim Puspa. Harapannya mendukung pelaku usaha yang dikelola ibu-ibu kepala rumah tangga. Hal ini demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Khofifah.
Selain itu, Khofifah juga menginisiasi program kerja sama dengan Baznas Jatim untuk menyalurkan bantuan usaha kepada pelaku usaha ultra mikro. Pada tahun 2022 dan 2023, bantuan untuk 6.478 pelaku usaha mikro dengan nilai antara Rp600.000 hingga Rp2.200.000.
“Kami juga menyalurkan bantuan usaha kepada Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan bantuan untuk Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE),” tambah Khofifah.
Kesejahteraan Masyarakat Menjadi Prioritas Khofifah
Khofifah menegaskan bahwa penurunan angka kemiskinan di Jawa Timur harus terus berlanjut hingga tidak ada lagi warga miskin. Kesejahteraan masyarakat Jawa Timur akan menjadi prioritas dalam lima tahun mendatang.
Saat ini, Khofifah bersama Emil Dardak telah menyusun rencana strategis untuk pembangunan Jawa Timur. Rencana tersebut disusun bersama para ahli dan pakar untuk memimpin Jawa Timur selama lima tahun ke depan.
“Kami telah menyiapkan buku yang sangat detail mengenai konsep pembangunan Jawa Timur ke depan. Insya Allah, ini lebih komprehensif dan matang untuk mewujudkan kemajuan, kesejahteraan, dan kebangkitan Jawa Timur,” tutup Khofifah.
