Kutim – Angin segar berembus bagi mahasiswa asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang tengah menempuh pendidikan di berbagai daerah. Harapan untuk memiliki fasilitas hunian yang lebih layak kembali menguat setelah rencana pengadaan dan pembangunan asrama mahasiswa permanen dibahas melalui Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama sejumlah pemangku kepentingan.
Pertemuan yang melibatkan DPRD Kutai Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, Himpunan Pelajar Mahasiswa Kutai Timur (HIPMA-KT), serta pihak terkait lainnya itu menjadi momentum penting untuk membicarakan kebutuhan fasilitas penunjang pendidikan. Pembahasan tersebut mendapat apresiasi dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) HIPMA-KT, Rahmat Khaidir Jayadi, yang menilai perjuangan panjang mahasiswa kini mulai memasuki babak baru.
Rahmat menyambut positif terlaksananya RDPU pembangunan asrama permanen mahasiswa Kutai Timur. Menurutnya, forum tersebut memberikan harapan setelah berbagai aspirasi mengenai kebutuhan fasilitas mahasiswa terus diperjuangkan selama bertahun-tahun.
“Saya sangat antusias mendengar kabar baik ini. Sejak tahun 2018 saya mengikuti perjalanan HIPMA-KT dan menjadi saksi bagaimana perjuangan mahasiswa, khususnya para penghuni asrama, dalam menyampaikan berbagai kebutuhan fasilitas penunjang pendidikan,” ujarnya.
Pengalaman mengikuti perjalanan organisasi sejak 2018 membuat Rahmat memahami berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa Kutim. Terutama bagi mereka yang tinggal di asrama, ketersediaan fasilitas menjadi salah satu kebutuhan penting untuk menunjang aktivitas perkuliahan dan kehidupan sehari-hari selama berada di daerah tempat menempuh pendidikan.
Ia mengungkapkan, HIPMA-KT selama ini telah menempuh berbagai langkah untuk menyuarakan kebutuhan inventaris maupun fasilitas asrama. Namun, tidak seluruh aspirasi tersebut memperoleh penyelesaian sebagaimana yang diharapkan mahasiswa.
“Berbagai cara telah kami usahakan untuk menyampaikan kebutuhan inventaris asrama, tetapi belum seluruhnya mendapatkan jawaban yang diharapkan. Karena itu, adanya RDPU ini menjadi angin segar bagi masa depan pelajar dan mahasiswa Kutai Timur,” katanya.
Bagi Rahmat, terselenggaranya forum bersama DPRD dan pemerintah daerah menunjukkan adanya ruang komunikasi yang lebih terbuka dalam membahas persoalan mahasiswa. Ia berharap pembicaraan tersebut tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi dapat berlanjut menjadi langkah konkret untuk memenuhi kebutuhan hunian mahasiswa Kutim.
Dalam RDPU itu, HIPMA-KT juga memaparkan sejumlah data yang telah dikumpulkan sejak 2024. Data tersebut menggambarkan kondisi mahasiswa Kutai Timur yang tersebar di sembilan cabang organisasi, yakni Sangatta, Samarinda, Balikpapan, Makassar, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya.
Pendataan tersebut turut memuat informasi mengenai kondisi asrama serta kebutuhan inventaris yang digunakan para penghuninya. Melalui penyajian data itu, HIPMA-KT berupaya memberikan gambaran kepada pemerintah daerah dan pihak terkait mengenai persoalan yang dihadapi mahasiswa secara lebih menyeluruh.
“Bagi kami, kesempatan memaparkan data langsung di hadapan DPRD, pemerintah daerah, dan pihak perusahaan yang hadir merupakan momentum berharga. Ini menunjukkan bahwa persoalan fasilitas mahasiswa menjadi perhatian bersama dan harus dikawal secara berkelanjutan,” jelasnya.
Rahmat memandang keberadaan data sebagai bagian penting dalam memperkuat aspirasi mahasiswa. Informasi mengenai persebaran mahasiswa, kondisi tempat tinggal, hingga kelengkapan inventaris dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebutuhan prioritas dan merumuskan kebijakan pembangunan asrama permanen.
Dorongan untuk menghadirkan fasilitas hunian mahasiswa yang lebih memadai sebelumnya juga disampaikan Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui wakil bupati mendorong rencana pengadaan asrama permanen sekaligus meminta HIPMA-KT menyiapkan data kebutuhan sebagai dasar pembahasan lanjutan.
Sementara itu, DPRD Kutai Timur turut membuka peluang pembahasan kerja sama dengan berbagai pihak dalam mendukung rencana tersebut. Salah satu kemungkinan yang dibicarakan ialah keterlibatan perusahaan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Peluang kolaborasi tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan fasilitas pendidikan yang lebih layak. Meski demikian, rencana pembangunan asrama permanen masih memerlukan pembahasan lanjutan agar dapat diterjemahkan menjadi program yang memiliki arah pelaksanaan jelas.
Di lingkungan organisasi, Rahmat menegaskan bahwa perjuangan menghadirkan asrama permanen tidak hanya menjadi tanggung jawab pengurus pusat HIPMA-KT. Seluruh unsur organisasi, termasuk pengurus cabang serta pengurus asrama putra dan putri, diharapkan terlibat aktif dalam mengawal perkembangan pembahasan tersebut.
“HIPMA-KT tidak bisa berjalan sendiri. Semua elemen harus ikut mengawal karena persoalan fasilitas mahasiswa merupakan tanggung jawab bersama. Kalau ingin pelajar dan mahasiswa berprestasi, maka bantulah mereka meraih mimpi. Semangat belajar yang tinggi harus diimbangi dengan fasilitas yang memadai,” tutupnya.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan pentingnya dukungan bersama dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi mahasiswa Kutai Timur. Keberadaan asrama yang layak diharapkan tidak sekadar menjawab kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga membantu mahasiswa lebih fokus menjalani pendidikan dan mengembangkan potensi akademik maupun nonakademik.
Rahmat berharap perhatian yang mulai terbangun melalui RDPU dapat terus dijaga oleh seluruh pihak. Menurutnya, kesinambungan komunikasi antara mahasiswa, pemerintah daerah, DPRD, dan pihak perusahaan menjadi salah satu faktor penting agar rencana pengadaan asrama permanen tidak berhenti sebagai wacana.
Dengan adanya pembahasan tersebut, HIPMA-KT menaruh harapan besar terhadap terwujudnya fasilitas hunian yang lebih representatif bagi mahasiswa asal Kutai Timur. Perjuangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun kini diharapkan berlanjut menuju langkah nyata, sehingga kebutuhan pendidikan generasi muda Kutim dapat memperoleh perhatian dan dukungan yang berkelanjutan.
