Jombang – “Menjaga akar sambil membaca arah zaman” menjadi napas pembahasan dalam Halaqah Nasional Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren se-Indonesia (MP3I) di Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang. Forum yang digelar Rabu malam (26/8/2026) itu mempertemukan para pengasuh pesantren dari berbagai daerah untuk membicarakan tantangan pendidikan pesantren di tengah derasnya perubahan teknologi dan modernisasi.
Kegiatan bertema “Pesantren dan Tantangan Masa Depan” tersebut berlangsung di Aula Lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim, Pesantren Tebuireng. Sejumlah pengasuh pesantren yang tergabung dalam MP3I mengikuti forum untuk bertukar pandangan mengenai arah pengembangan pesantren, sekaligus merumuskan respons terhadap berbagai persoalan yang muncul seiring perkembangan masyarakat, teknologi, serta pola pendidikan.
Ketua MP3I KH A. Zaim Ma’shoem mengatakan pesantren selama ini tidak pernah benar-benar lepas dari tantangan. Menurutnya, berbagai tudingan bahkan telah diarahkan kepada dunia pesantren sejak bertahun-tahun lalu.
“Saya sudah mendapatkan fitnah terhadap pesantren sejak tahun 2005 sampai sekarang,” ungkap KH A. Zaim Ma’shoem.
Ia berharap Halaqah Nasional MP3I tidak hanya berhenti sebagai ruang pertemuan para pengasuh pesantren, tetapi mampu menghasilkan manfaat nyata bagi kemajuan lembaga pendidikan pesantren. Forum tersebut juga diharapkan memperkuat peran pesantren dalam memberikan kontribusi untuk masyarakat dan kepentingan bangsa.
Dalam kesempatan itu, KH A. Zaim turut mengulas perjalanan berdirinya MP3I. Organisasi tersebut, menurut dia, bermula dari gagasan almarhum KH Salahuddin Wahid pada 22 Desember 2014. Pada masa awal pembentukannya, MP3I belum langsung mengembangkan kepengurusan hingga tingkat wilayah dan cabang.
KH A. Zaim menjelaskan bahwa sejak 2014 hingga 2019, pengurus MP3I belum diperkenankan membentuk struktur organisasi di daerah. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari arahan KH Salahuddin Wahid yang ketika itu menjadi pembina MP3I.
“Barulah pada tahun 2019, lima tahun kemudian, kami semuanya dipanggil ke sini untuk diperintahkan membentuk cabang dan wilayah masing-masing,” jelasnya.
Sementara itu, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz yang hadir sebagai keynote speaker menekankan bahwa pesantren harus mampu melakukan transformasi tanpa kehilangan karakter dasarnya. Salah satu tantangan besar yang dihadapi saat ini, menurutnya, adalah perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.
“Kita menghadapi, paling tidak salah satunya adalah bagaimana kita menghadapi perubahan model teknologi yang sangat luar biasa. Bagaimana kita membentengi supaya kita bisa mengambil manfaat dan kita bisa membentengi mudaratnya,” tuturnya.
Pandangan tersebut menempatkan teknologi sebagai ruang yang perlu disikapi secara seimbang. Pesantren tidak dapat menutup diri dari inovasi, tetapi pada saat yang sama perlu memiliki kemampuan menyaring dampak yang berpotensi bertentangan dengan nilai pendidikan dan tradisi kepesantrenan.
KH Abdul Hakim juga menyinggung arah pendidikan yang dinilainya semakin banyak memberi perhatian pada kemampuan intelektual dan aspek kognitif. Kondisi itu menjadi perhatian karena pendidikan pesantren sejak lama tidak hanya berorientasi pada kecakapan akademik, melainkan juga pembentukan karakter, kedisiplinan, spiritualitas, serta akhlak.
“Belakangan ini saya merasakan kita banyak sekali kemudian lebih banyak mengasah kecerdasan di ranah-ranah kognitif,” tambahnya.
Menurutnya, pembaruan dalam dunia pesantren tetap diperlukan agar lembaga pendidikan Islam tersebut tidak tertinggal oleh perubahan. Namun transformasi tidak seharusnya dimaknai sebagai meninggalkan tradisi yang selama ini menjadi kekuatan pesantren. Modernisasi justru perlu ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat fungsi pendidikan dengan tetap berpijak pada nilai-nilai utama kepesantrenan.
Konteks transformasi pendidikan tersebut juga terlihat dalam perkembangan unit-unit pendidikan Pesantren Tebuireng. Selain mempertahankan pendidikan berbasis kitab kuning melalui Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dan Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari, Tebuireng mengembangkan berbagai lembaga formal mulai tingkat dasar hingga menengah.
Pada jenjang pendidikan menengah, Pesantren Tebuireng memiliki antara lain Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah, SMA A. Wahid Hasyim, SMK Khoiriyah Hasyim, SMA Trensains Tebuireng, hingga MA Sains Tebuireng Putri. Di tingkat menengah pertama juga terdapat MTs Salafiyah Syafi’iyah, SMP A. Wahid Hasyim, SMP Sains Tebuireng, serta MTs Sains Putri Salahuddin Wahid.
Keberagaman model pendidikan tersebut menunjukkan upaya pesantren menghubungkan tradisi keislaman dengan pendidikan formal, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan keterampilan masa kini. SMA Trensains Tebuireng, misalnya, mengembangkan konsep pendidikan yang mempertemukan kurikulum nasional, perluasan wawasan internasional, dan muatan khas Pesantren Sains.
Halaqah Nasional MP3I di Tebuireng akhirnya menjadi ruang penting untuk membicarakan bagaimana pesantren mempertahankan identitasnya sekaligus melakukan penyesuaian terhadap perubahan. Sinergi antarpengasuh pesantren diharapkan mampu melahirkan langkah strategis agar pesantren tetap relevan, adaptif, dan terus memberikan kontribusi nyata dalam pendidikan serta kehidupan kebangsaan Indonesia.
