Cilacap – Di areal Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, kapal besar tengah dibuat oleh puluhan tukang di galangan. Papan-papan kayu sudah tersambung, haluan sudah nampak meruncing, susunan kerangka kapal menunjukkan teknik pembuatan yang amat kompleks.
“Pengerjaan masih tiga bulan lagi, ini baru 30 persen,” kata salah satu tukang di atas kapal.
Menurutnya, pembuatan kapal itu, paling cepat lima sampai tujuh bulan. Pengerjaan satu kapal melibatkan 10 tukang. Papan-papan kayu yang digunakan bervariasi. Namun setidaknya 3 jenis yakni Damar Laut, Jati dan Laban.
Sumiarto (59) dari Kampung Laut Kabupaten Cilacap bercerita, penutup lambung kapal membutuhkan jenis kayu bersifat ulet dan lentur, tulangan kapal mesti menggunakan kayu keras. Maka, kayu laban dipilih sebagai bahan tulangan.
“Kayu kami sesuaikan dengan kebutuhan kapal, kalau lambung kapal membutuhkan jenis kayu bersifat ulet dan lentur. Pada bagian lain butuh jenis kayu yang keras,” ungkap Sumiatro sambil.
Mereka membuat kapal hanya berdasarkan pada pengalaman. Kebiasaan yang telah mereka kerjakan selama puluhan tahun.
“Kalau saya, sudah kerja di galangan 20 tahunan. Dapat ilmu pertukangan kapal dari orang-orang sini,” ujarnya.
Teknik perkapalan, di Nusantara memang memiliki rentang sejarah panjang. Relief di Borobudur misalnya, ia sebut melukiskan perahu atau kapal yang dapat digolongkan tiga jenis yakni perahu lesung, kapal besar tidak bercadik dan kapal besar bercadik.
Sedang di galangan Cilacap, para tukang tengah membuat kapal kursin atau bagan. Kapal ini juga memiliki kaitan sejarah panjang. Abad ke-19, konstruksi kapal Bagan pun populer sebagai bagian pelayaran dan perniagaan di Nusantara.
“Kalau sudah berlayar kapal ini akan bermesin 30 GT. Nantinya akan dipakai untuk menangkap ikan tuna dan ikan yang lain,” ujar Sumiarto.
Sumino (37) yang juga warga Kampung Laut Kabupaten Cilacap, mengaku telah bekerja di galangan kapal selama 10 tahun. Ia bertugas mengontrol serta membantu puluhan tukang-tukang lain saat mengerjakan pembuatan kapal.
“Tugas saya mengontrol dan mulai dari pemilihan batang kayu, penghalusan, pemasangan, pendempulan dan sampai pengecatan khusus kapal kayu yang anti air,” Imbuhnya.
Sumino bercerita, pertama bekerja di galangan menjadi buruh pembantu. Tugasnya mulai dari manggul kayu, memindahkan papan, menyiapkan paku atau menggeser tulangan. Menurutnya, di dunia tukang pembuat kapal, tukang harus memiliki fisik. Ketekunan bekerja dan pengalaman bertahun-tahun sangat menentukan keahlian.
“Alat-alat yang kita gunakan tergolong sederhana. Seperti pemotong kayu, perekat kayu. Makanya pengalaman bekerja sangat penting di sini,” ujarnya.
Ia bercerita untuk kapal yang saat ini tengah dibuat memiliki panjang 30 sampai 32 meter. Sementara, lebar bukaan lambung atas kurang lebih 7 sampai 8 meter. Kapal dibuat dengan menentukan panjang lunas bawah, memperhitungkan panjang kapal. Lantas, tulang bawah dan tulang atas.
“Tulangan yang sudah terangkai itu ditentukan tarikan lebar atas dimulai dari lambung. Tulang samping kiri dan kanan ditimbang menggunakan waterpas agar seimbang. Perhitungan ukuran ngikutin aja,” terang Sumino.
Menurut Sumino, tiap kapal membutuhkan biaya minimal Rp 5 miliar. Namun ada pula yang habis biaya hingga Rp 7 miliar. Ia mempunyai catatan tersendiri tentang kayu dan detail ukuran yang digunakan sebagai pertanggungjawaban pada pemesan kapal. Biaya ini ia prediksi dari kayu-kayu yang digunakan.
Galangan kapal di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, menunjukkan betapa kaya kebudayaan maritime di Indonesia. Laut bukan sekadar produksi garam, uasaha-usaha tangkap ikan, tapi juga representasi teknik perkapalan yang berusia tua menunjukkan kemandirian budaya.
Di antara peluh keringat para pekerja di galangan kapal itulah, mozaik sejarah kemaritiman bertahan dengan cara-cara mengagumkan.
