Anyaman sejarah & migrasi menjadikan Bontang bukan sekadar kota industri, tapi juga rumah bagi beragam etnis dan budaya. Dari kampung laut tua hingga pemukiman urban modern, Bontang menunjukkan bagaimana keragaman bisa hidup berdampingan dalam satu lanskap kota.
Akar kemajemukan Bontang terbentuk dari dua arus besar: warisan pesisir dan lonjakan industri. Sejak dahulu, kampung-kampung atas air seperti Bontang Kuala dan Malahing dihuni oleh masyarakat Bajau, Bugis, dan Mandar. Kehadiran kilang LNG dan pabrik pupuk pada 1970–1980-an menarik perantau dari Sulawesi, Jawa, hingga NTT. Hasilnya, kota ini kini dihuni oleh penduduk dari berbagai agama, bahasa, dan kebiasaan.
“Identitas kami bukan hanya industri. Kami ini kota laut, kota budaya, kota pertemuan,” ujar salah satu tokoh masyarakat Bontang Kuala dalam forum budaya lokal.
Bajau adalah suku laut yang membangun Bontang Kuala. Tradisi makdanakan (rasa bersaudara) menjadi filosofi hidup mereka. Di sisi lain, Bugis dikenal sebagai pedagang ulung dari Mahakam dan pesisir Kutai. Sementara di Malahing, Mandar hidup dari rumput laut dan teripang. Ketiganya menjadi fondasi sosial kota yang terbuka terhadap pendatang.
Jejak keberagaman juga terlihat di ruang-ruang kota: rumah panggung dan dek kayu di kampung laut, masjid tua berdampingan dengan gereja dan vihara di pusat kota. Di pasar ikan, bahasa Indonesia logat pesisir berpadu dengan kosakata Bugis, Mandar, dan Bajau.
Kuliner pun mencerminkan mozaik ini—dari coto Makassar, olahan rumput laut Malahing, sampai soto dan rawon khas Jawa. Setiap warga membawa budaya, lalu saling mengadopsi.
Namun, harmoni ini perlu dirawat. Tantangan seperti kesenjangan layanan dasar antara kampung laut dan kota darat, abrasi pantai, serta memudarnya memori budaya pada generasi muda harus ditangani serius.
Pemerintah dan komunitas telah memulai langkah: menjadikan Bontang Kuala dan Malahing sebagai desa wisata, menggelar festival lintas budaya, dan mendorong dokumentasi cerita rakyat lewat riset lokal. Agenda tahunan seperti Pesta Laut dan City Carnival menjadi ruang ekspresi sekaligus interaksi warga.
Bontang hari ini adalah bukti bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan. Dengan menata kampung laut, merawat ruang ibadah dan budaya, serta memastikan generasi muda mengenal akar mereka, kota ini bisa terus tumbuh sebagai kota multietnis yang inklusif dan tangguh.
