Pikiran yang berisik sering kali bukan berasal dari masalah besar, tapi dari kekhawatiran kecil yang dipelihara terlalu lama. Overthinking, atau kebiasaan berpikir berlebihan, telah menjadi teman diam-diam bagi banyak orang. Kadang dimulai dari satu notifikasi yang belum dibalas, kekhawatiran akan hari esok, atau sekadar rasa takut membuat keputusan. Tanpa sadar, hal kecil ini memicu spiral stres yang membuat tubuh dan pikiran kelelahan.
Fenomena overthinking makin banyak dialami di era digital saat ini. Menurut studi dari University of Michigan [2023], sekitar 73% generasi muda mengalami stres ringan hingga berat akibat pikiran berlebihan. Mereka cenderung sulit tidur, kehilangan fokus, dan merasa tidak berdaya menghadapi tekanan yang sebagian besar hanya terjadi di kepala mereka sendiri.
“Overthinking itu seperti duduk di kursi goyang. Kamu terus bergerak, tapi tidak ke mana-mana,” ujar Rika Sari, praktisi mindfulness dan konselor kesehatan mental. Menurutnya, yang dibutuhkan bukan menekan pikiran, tetapi melatih diri untuk mengelolanya secara sadar.
Ada beberapa langkah praktis untuk menghindari jebakan stres akibat overthinking. Pertama, beri batas waktu saat kamu memikirkan suatu hal. Misalnya, tetapkan waktu 10–15 menit untuk memikirkan kekhawatiranmu. Setelah itu, kembalilah ke rutinitas dengan lebih tenang.
Langkah berikutnya adalah menyadari kontrol. Ajukan pertanyaan sederhana pada diri sendiri:
“Apakah ini di luar kendaliku?”
Jika iya, lepaskan. Jika masih dalam kendalimu, fokuslah mengambil langkah nyata, sekecil apa pun. Banyak stres muncul karena kita terus menunda keputusan yang sebenarnya bisa kita ambil saat itu juga.
Latihan mindfulness juga bisa menjadi penolong. Cobalah hadir seutuhnya dalam kegiatan sederhana seperti makan, berjalan, atau mandi. Dengan membiasakan diri hidup di momen sekarang, ruang dalam pikiran akan terasa lebih lapang.
Mengelola overthinking bukan berarti tidak berpikir, tapi tahu kapan harus berhenti. Beri otak ruang untuk istirahat. Jangan biarkan ia menjadi penguasa yang membuatmu lupa menikmati hidup. Kamu tetap pemegang kendali atas arah pikiranmu.
