BONTANG – Perbedaan dalam perayaan Idul Adha tahun ini menjadi momen yang membutuhkan pemahaman dan penghormatan antara sesama umat muslim. Wakil Ketua Komisi III Abdul Malik, menekankan pentingnya menghargai perbedaan tanggal perayaan Idul Adha 2023. Muhammadiyah menetapkan pada tanggal 28 Juni dan oleh Pemerintah pada tanggal 29 Juli 2023. Ia berpendapat bahwa perbedaan ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk memecahbelah ummat.
“Perbedaan ini Rahmat, jangan sampai kita terpecah-belah,” ungkap Abdul Malik.
Ia menambahkan Idul Adha juga sebagai Hari Raya Kurban, merupakan salah satu momen penting dalam agama Islam di mana umat muslim merayakan meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim. Tradisi berkurban pada hari tersebut merupakan ibadah dengan mempersembahkan hewan kurban sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
“Momen ini sangat spesial, rugi kalau tidak diambil sebagai bentuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah,” ujarnya.
“Menyiapkan proses berkurban dapat dimulai sejak satu tahun sebelumnya. Umat muslim mempersiapkan segala hal untuk pelaksanaan ibadah ini, termasuk memilih hewan kurban yang sesuai dengan syarat-syarat yang ada,” imbuhnya.
Tidak hanya itu, menjelang hari raya Idul Adha, umat muslim juga memperbanyak takbir, tahmid, dan berpuasa dua hari sebelumnya. Sebagai bentuk persiapan diri untuk menyambut momen yang istimewa tersebut. Selain melaksanakan ibadah, Idul Adha juga menjadi kesempatan bagi umat muslim untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat, saling berbagi kebahagiaan, dan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.
“Pada Idul Adha ini kita memperbanyak Takbir, takmid dan berpuasa Tarwiyah dan Arafah yang pahalanya sangat besar,” terangnya.
Abdul Malik mengingatkan bahwa perbedaan tersebut seharusnya tidak menghalangi persatuan dan kebersamaan umat muslim.
“Idul Adha 2023 dapat menjadi momentum bagi kita semua untuk semakin memperkuat persaudaraan, saling menghormati, dan merangkul perbedaan,” terangnya.
