Buton Selatan – Kasuami, soami atau sangkola adalah makanan khas daerah Desa Bahari Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan. Kasuami terdapat juga dibeberapa daerah di Sulawesi Tenggara seperti di Buton, Muna dan Wakatobi. Orang Buton dan Muna menyebutnya kasuami, sementara orang Wakatobi menyebutnya soami. Warga desa Bahari menyebutnya sangkola.Kami diajak makan malam di Rumah Malige (rumah panggung) milik keluarga Ivon salah salah satu warga di Desa Bahari dua.
“Kasuami memiliki arti makanan dari ubi kayu yang diolah dengan uap panas atau soa,” ungkap Ivon, Kamis (26/1/2022).
Makanan ini menyerupai tumpeng dan berwarna putih kekuning-kuningan. Menurut ivon, kasuami biasanya dihidangkan saat acara besar seperti hajatan maupun penyambutan sanak saudara yang pulang ke kampung halaman.
Hingga kini, kasuami masih menjadi makanan pokok dan umumnya disajikan bersama ikan parende, yaitu sop ikan khas buton. Bisa juga disantap dengan Katata yaitu ikan Balake yang dimasak dengan po’o atau mangga.

Hidangan malam ini juga lengkap dengan Kasiokadapo. Masakan ini berupa ikan yang dimasak atau bungkus dengan kulit jagung dengan blimbing bulu, cabe dan bumbu-bumbu rempah lainnya).
“Malam ini kita makan dengan ikan bakar, ini ada Katata, kasiokadapo dan sayur kelor,” ucap Ivon sambil menyuguhkan makanan.
Kasuami diperkirakan menjadi konsumsi sehari-hari oleh warga nelayan dan petani sebab desanya tidak bisa ditumbuhi tanaman padi. Di desa Bahari dua, tanaman singkong menjadi bahan dasar kasuami, tumbuh subur dan menjadi makanan pokok sehari-hari.
Kasuami tidak mudah basi, para pelaut menjadikannya bekal dan makanan khas mereka. Kasuami dapat dikonsumsi hingga 14 sampai 20 hari.
“Kasuami ini tahan lapar, tapi harus sabar mengunyahnya agar bisa turun ke perut,” ujarnya.
Kasuami berbahan dasar singkong yang sudah dikeringkan. Warga Desa Bahari menghilangkan kandungan air dari singkong dengan cara digepe atau diperas menggunakan kain warna putih yang bahannya cukup tipis.
“Tadi kita lihat, kain putih diperas dengan papan diatasnya diberi pemberat seperti batu. Itu menghabiskan waktu sekitar seharian,” tutur Ivon.
Setelah itu, parutan singkong yang telah terpisah dimasukkan kedalam cetakan berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Parutan singkong yang sudah dicetak tadi lalu dikukus selama kurang lebih 15 menit.
“Setelah air mendidih, parutan ubi tadi kedalam tempat khusus
