Malang – Departemen Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan Yayasan Edufarmers International melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program Dosen Berkarya (Dokar) 2026.
Kegiatan yang berlangsung sepanjang Juli hingga Oktober 2026 tersebut mengusung tema “Optimalisasi Peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Penyediaan Makanan Bergizi, Aman, dan Higienis: Pendekatan Edukasi, Praktik Standar Porsi, dan Pelatihan Keamanan Pangan”.
Program ini diketuai oleh Dr. Nurul Muslihah, S.P., M.Kes., bersama anggota tim Eva Putri Arfiani, S.Gz., M.P.H., Dietisien, Laksmi Karunia Tanuwijaya, S.Gz., M.Biomed., Ristavia Putri, S.Gz., Nurul Alfiyatul Izzah, Fasawwa Anzalma, Nabila Vistyanti Priliachmi, dan Jawwadu Ahmad Zakinnawa.
Kegiatan tersebut menyasar tenaga pengolah makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari lima SPPG di bawah naungan Yayasan Edufarmers International yang tersebar di wilayah Kota dan Kabupaten Malang.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berupaya meningkatkan kompetensi tenaga pengolah makanan dalam menerapkan standar porsi, higiene dan sanitasi, serta prinsip keamanan pangan.

Peningkatan kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung penyediaan makanan yang bergizi, aman, dan higienis bagi seluruh penerima manfaat program MBG.
Rangkaian kegiatan meliputi evaluasi menu B3 dan standar porsi, praktik pemorsian berdasarkan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG), serta penyesuaian dengan kebiasaan operasional yang diterapkan di masing-masing SPPG.
Selain praktik pemorsian, peserta mendapatkan edukasi mengenai higiene dan sanitasi, prosedur penerimaan dan penyimpanan bahan makanan, analisis bahaya, serta pengenalan dasar Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).
Materi tersebut diberikan untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai pentingnya pengendalian risiko keamanan pangan dalam setiap tahapan penyelenggaraan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga proses pengolahan dan distribusi.
Peserta juga diminta menyusun action plan atau rencana tindak lanjut sebagai langkah perbaikan yang dapat diterapkan dalam kegiatan operasional SPPG.
Untuk mengukur pemahaman setelah mengikuti pelatihan, peserta menjalani post-test sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran.
Tim pelaksana juga merencanakan evaluasi lanjutan dalam waktu 14 hari untuk mengetahui sejauh mana rencana tindak lanjut yang telah disusun benar-benar diterapkan dalam kegiatan operasional SPPG.
Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Nurul Muslihah, menyampaikan harapannya agar pelatihan tersebut mampu meningkatkan kualitas penyelenggaraan makanan dalam program MBG.
“Kami berharap tenaga pengolah makanan di SPPG dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan standar porsi serta prinsip keamanan pangan. Dengan demikian, proses penyelenggaraan makanan dapat berjalan lebih baik dan mendukung pemenuhan gizi penerima manfaat program MBG,” ujar Dr. Nurul Muslihah.
Menurutnya, penerapan standar porsi dan prinsip keamanan pangan merupakan aspek penting dalam memastikan makanan yang disajikan sesuai dengan kebutuhan gizi penerima manfaat.
Dampak kegiatan ini diharapkan dapat dirasakan secara langsung oleh penerima manfaat program MBG, khususnya anak sekolah, melalui penyediaan makanan dengan porsi yang lebih tepat dan kandungan gizi yang sesuai kebutuhan.
Selain itu, proses pengolahan dan distribusi makanan diharapkan semakin memperhatikan prinsip keamanan pangan guna meminimalkan potensi risiko yang dapat memengaruhi kualitas makanan.
Peningkatan kompetensi tenaga pengolah makanan dalam menerapkan higiene dan sanitasi serta mengendalikan potensi bahaya pangan juga diharapkan dapat mendukung penyediaan makanan yang aman, higienis, dan berkualitas.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Terdapat tiga tujuan SDGs yang menjadi fokus kontribusi kegiatan, yakni SDGs 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, serta SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Kontribusi terhadap SDGs 2 diwujudkan melalui penguatan kapasitas tenaga pengolah makanan dalam menerapkan standar porsi dan menyediakan makanan bergizi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi penerima manfaat program MBG.
Sementara itu, dukungan terhadap SDGs 3 dilakukan melalui edukasi dan pelatihan mengenai higiene, sanitasi, serta keamanan pangan untuk meminimalkan risiko bahaya pangan dan mendukung penyediaan makanan yang aman bagi anak sekolah.
Adapun kontribusi terhadap SDGs 4 diwujudkan melalui pembelajaran berbasis edukasi, demonstrasi, praktik langsung, dan penyusunan rencana tindak lanjut yang bertujuan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan tenaga pengolah makanan secara berkelanjutan.
Integrasi ketiga tujuan pembangunan berkelanjutan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra masyarakat dalam memperkuat kualitas penyelenggaraan makanan.
Melalui kerja sama Universitas Brawijaya dan Yayasan Edufarmers International, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berkelanjutan terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia pelaksana program MBG, sekaligus mendukung kesehatan dan pemenuhan kebutuhan gizi para penerima manfaat.
