Jombang – Semangat perjuangan para ulama dan santri kembali menggema di bumi Tebuireng. Ribuan peserta memadati lapangan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Momentum bersejarah tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari pengorbanan para kiai, santri, dan rakyat yang bersatu mempertahankan kedaulatan bangsa.
Peringatan HSN yang berlangsung pada Kamis (22/10/2026) tersebut dihadiri sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU), pejabat negara, pengasuh pesantren, serta ribuan santri. Ketua Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan nasional sekaligus mewariskan semangat Resolusi Jihad kepada generasi muda.
Menurut Gus Kikin, Hari Santri tidak boleh dimaknai sebatas kegiatan seremonial tahunan. Peringatan tersebut memiliki nilai sejarah yang mendalam karena berkaitan erat dengan perjuangan para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Ia menilai generasi muda perlu memahami bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan pesantren yang memiliki kontribusi besar dalam membangkitkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme.
Suasana peringatan HSN di Tebuireng berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat nasionalisme. Para peserta mengikuti rangkaian upacara yang dipadukan dengan pertunjukan seni bertema perjuangan kemerdekaan.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah teatrikal perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan. Dalam pertunjukan tersebut, diperagakan adegan penyobekan bagian berwarna biru pada bendera Belanda hingga menyisakan warna Merah Putih.
Adegan tersebut menggambarkan salah satu peristiwa bersejarah dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sekaligus menjadi simbol keberanian rakyat dalam menolak kembalinya kekuasaan kolonial.
Pementasan semakin menyentuh melalui pembacaan puisi bernuansa perjuangan yang mengingatkan peserta terhadap pengorbanan para pahlawan.
Melalui pertunjukan tersebut, para santri tidak hanya diajak mengenang sejarah, tetapi juga memahami nilai keberanian, pengorbanan, dan kecintaan terhadap tanah air.
Peringatan Hari Santri di Tebuireng turut dihadiri Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar, Wakil Ketua Umum PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Katib Aam PBNU M. Nuh, serta Sekretaris Jenderal PBNU Gus Gudfan.
Hadir pula Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, bersama sejumlah tokoh agama, pejabat pemerintahan, dan unsur pesantren.
Kehadiran para tokoh tersebut memperlihatkan pentingnya peringatan Hari Santri sebagai momentum memperkuat hubungan antara nilai keagamaan, sejarah perjuangan, dan kehidupan kebangsaan.
Seusai mengikuti upacara, Gus Kikin menyampaikan bahwa pemahaman sejarah perjuangan ulama harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
Ia menekankan bahwa fatwa jihad dan Resolusi Jihad merupakan bagian penting dari sejarah bangsa yang perlu dipahami secara menyeluruh.
Menurutnya, seruan perjuangan para ulama pada masa awal kemerdekaan memiliki pengaruh besar dalam membangkitkan keberanian rakyat untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Gus Kikin menjelaskan bahwa fatwa jihad yang dicetuskan pada 17 September 1945 menjadi bagian dari rangkaian perjuangan yang kemudian berlanjut dengan lahirnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
Resolusi tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa, terutama dalam membangkitkan semangat perlawanan rakyat terhadap ancaman kembalinya penjajahan.
Semangat perjuangan tersebut kemudian berkaitan erat dengan rangkaian peristiwa yang mencapai puncaknya dalam Pertempuran Surabaya pada November 1945.
“Warisan sejarah tersebut perlu dipahami secara utuh agar generasi penerus tidak hanya mengenal tanggal dan peristiwa, tetapi juga mampu mengambil nilai perjuangan yang relevan untuk kehidupan berbangsa saat ini,” jelas Gus Kikin.
Ia menilai pemahaman sejarah tidak cukup hanya dengan menghafal nama tokoh atau tanggal peristiwa. Generasi muda juga perlu memahami nilai-nilai yang melandasi perjuangan para pendahulu.
Nilai keberanian, pengorbanan, persaudaraan, dan persatuan menjadi warisan penting yang tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan berbangsa.
Karena itu, momentum Hari Santri diharapkan mampu membangkitkan kesadaran generasi muda untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa melalui pendidikan, pengabdian sosial, serta penguatan nilai kebangsaan.
Selain pelaksanaan upacara, peringatan HSN 2026 di Tebuireng juga dirangkai dengan kegiatan napak tilas sejarah perjuangan ulama dan santri.
Salah satu agenda yang disiapkan adalah kirab dari Mojokerto menuju Surabaya sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kegiatan tersebut melibatkan rombongan santri dan peserta dari berbagai daerah, antara lain Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, hingga Bali.
Keterlibatan peserta lintas daerah menjadi simbol bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan merupakan bagian dari sejarah bersama seluruh rakyat Indonesia.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, peserta membawa prasasti simbolis Resolusi Jihad dan bendera kebesaran Nahdlatul Ulama.
Pelepasan rombongan dari halaman Pondok Pesantren Tebuireng memiliki makna historis karena kawasan pesantren tersebut memiliki hubungan erat dengan perjalanan perjuangan para ulama dan santri.
Kirab tersebut juga dimaknai sebagai simbol estafet perjuangan dari generasi terdahulu kepada generasi sekarang.
Rombongan dijadwalkan tiba di Surabaya pada malam hari sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengenangan sejarah perjuangan menjelang Hari Pahlawan.
Gus Kikin kembali mengingatkan bahwa semangat perjuangan para ulama harus diwujudkan melalui sikap menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Ia menilai perbedaan pandangan maupun latar belakang sosial tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah persaudaraan antarsesama anak bangsa.
“Kami mengajak generasi muda dan insan media untuk ikut merawat semangat kebangsaan serta tidak membiarkan perbedaan menjadi sumber perpecahan,” pesan Gus Kikin.
Menurutnya, persatuan menjadi salah satu kekuatan utama yang memungkinkan bangsa Indonesia menghadapi berbagai ancaman pada masa perjuangan kemerdekaan.
Nilai tersebut tetap dibutuhkan pada masa sekarang, terutama ketika masyarakat menghadapi dinamika sosial, keagamaan, dan kebangsaan yang semakin kompleks.
Gus Kikin juga menekankan pentingnya mengedepankan pendekatan yang menyejukkan dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat.
Doa, munajat, penguatan keilmuan, serta sikap saling menghormati dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis.
Melalui pendekatan tersebut, nilai-nilai keagamaan diharapkan dapat menjadi sumber kedamaian sekaligus memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Tebuireng menjadi pengingat bahwa perjuangan para ulama dan santri tidak berhenti pada catatan sejarah.
Warisan perjuangan tersebut perlu diteruskan melalui tindakan nyata, mulai dari menjaga persatuan, memperkuat pendidikan, meningkatkan kepedulian sosial, hingga berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Dengan semangat Resolusi Jihad, para santri diharapkan mampu melanjutkan pengabdian para pendahulu melalui perjuangan yang sesuai dengan tantangan zaman.
Melalui peringatan HSN 2026, Tebuireng kembali menegaskan perannya sebagai salah satu pusat penguatan nilai keagamaan dan kebangsaan. Pesan persatuan yang disampaikan Gus Kikin menjadi pengingat bahwa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
