Semarang – Musim kemarau tampaknya belum segera menyerahkan panggung kepada hujan di Jawa Tengah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah provinsi tersebut baru memasuki musim hujan pada November 2026, lebih lambat dibandingkan kondisi normal akibat pengaruh El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang bergerak menuju fase positif.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Ahli Madya Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana, menjelaskan kondisi iklim global masih berada dalam pengaruh El Nino sangat kuat. Indeks ENSO periode Juli-Agustus-September 2026 tercatat positif 2,63 dan fenomena tersebut diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Pada saat bersamaan, IOD yang sebelumnya berada dalam kondisi netral mulai menunjukkan kecenderungan positif dan diproyeksikan bertahan hingga penghujung 2026.
“Awal musim hujan di Provinsi Jawa Tengah umumnya terjadi pada November 2026, sebesar 58 persen dari total luasan wilayah Jateng masuk penghujan,” ungkap Zauyik pada konferensi pers awal musim hujan Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Rabu (30/9/2026).
Prediksi tersebut menunjukkan datangnya musim penghujan tidak berlangsung serentak di seluruh Jawa Tengah. Sekitar enam persen wilayah diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan pada dasarian pertama atau awal November 2026. Wilayah itu mencakup Kabupaten Wonosobo, sebagian Banjarnegara, sebagian kecil Temanggung, Purbalingga, Tegal, Brebes, dan Banyumas.
Sebaliknya, beberapa kawasan diperkirakan harus menunggu lebih lama. Sekitar enam persen wilayah Jawa Tengah diproyeksikan baru memasuki musim penghujan pada dasarian kedua Desember 2026 atau sekitar pertengahan bulan. Daerah tersebut meliputi sebagian besar Kabupaten Jepara, sebagian Rembang, serta sebagian kecil Demak, Pati, dan Wonogiri.
Perbedaan waktu tersebut menggambarkan karakter musim hujan yang tidak datang bersamaan di setiap Zona Musim (ZOM). Secara nasional, BMKG juga memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim penghujan pada November dan Desember 2026. Sebanyak 529 ZOM atau 61,08 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami awal musim hujan yang lebih lambat dibandingkan rerata klimatologisnya.
“Bila kita bandingkan dengan kondisi normalnya, maka musim hujan diprediksi mundur akibat dampak kemarau lebih panjang dan anomali iklim El Nino sangat kuat, serta IOD positif,” jelasnya.
Di Jawa Tengah, sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami keterlambatan awal musim hujan lebih dari satu bulan atau sekitar tiga dasarian dari kondisi normal. Secara umum, musim penghujan periode 2026-2027 diproyeksikan berlangsung sekitar lima hingga enam bulan.
BMKG juga memetakan periode puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Maret 2027. Pada Januari 2027, sebanyak 24 ZOM atau sekitar 40 persen luas Jawa Tengah diproyeksikan mencapai puncak musim hujan. Selanjutnya, puncak hujan diperkirakan terjadi pada 22 ZOM pada Februari dan delapan ZOM pada Maret 2027.
Kondisi tersebut membuat masa peralihan dari kemarau menuju penghujan perlu mendapat perhatian. Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, terutama ketika memasuki periode pancaroba.
“Waspadai banjir bandang, longsor, dan puting beliung pada pancaroba. Jika awal musim hujan diprediksi terjadi pada November, maka pancaroba diprediksi mulai pertengahan Oktober sebagai masa peralihan musim,” pungkasnya.
Peringatan tersebut tidak hanya ditujukan kepada masyarakat umum. Sektor pertanian juga perlu mengantisipasi perubahan musim, termasuk risiko banjir ketika curah hujan mulai meningkat. Kebersihan dan kelancaran saluran irigasi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan menjelang datangnya musim penghujan.
Di tingkat nasional, BMKG menjelaskan kombinasi El Nino dan IOD dapat mengurangi curah hujan serta memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah. Situasi itu menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan periode 2026-2027 datang lebih lambat dan berpotensi berlangsung lebih singkat di sejumlah kawasan Indonesia.
Dengan musim penghujan Jawa Tengah yang diperkirakan mulai mendominasi pada November 2026, kesiapsiagaan sejak masa pancaroba menjadi penting. Masyarakat dan sektor pertanian perlu mencermati perkembangan informasi cuaca dan iklim, sekaligus mengantisipasi perubahan kondisi dari kemarau panjang menuju periode dengan potensi hujan lebat dan bencana hidrometeorologi.
