Surabaya – Pintu menuju ruang kelas di Amerika Serikat terbuka lebih lebar bagi generasi muda Indonesia. Sebanyak 21 perguruan tinggi dan universitas asal Amerika Serikat hadir langsung di Surabaya untuk menawarkan informasi studi, program penerimaan mahasiswa, beasiswa hingga kesempatan pertukaran pendidikan kepada ratusan pelajar dan mahasiswa.
Peluang tersebut diperkenalkan dalam pameran pendidikan Amerika Serikat yang berlangsung di The Westin Surabaya, Jalan Mayjen Sungkono, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB itu mempertemukan calon mahasiswa Indonesia dengan perwakilan kampus AS, layanan konsultasi pendidikan, pengelola beasiswa, serta pihak yang memberikan informasi mengenai prosedur visa.
Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Christopher, dalam sambutannya mendorong peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog secara langsung dengan perwakilan universitas. Menurut dia, menentukan tempat belajar di luar negeri tidak cukup hanya dengan mengenali nama atau reputasi sebuah kampus. Calon mahasiswa perlu memahami program akademik, syarat penerimaan, kehidupan kampus hingga lingkungan kota yang nantinya menjadi tempat tinggal.
“Pameran ini merupakan tempat yang sangat baik bagi kalian untuk memulai pencarian tersebut,” ujar Christopher, Sabtu (19/9/2026).
Kehadiran 21 perguruan tinggi dan universitas memberikan kesempatan kepada peserta untuk membandingkan berbagai pilihan pendidikan secara langsung. Mereka dapat menggali informasi mengenai program studi yang tersedia, mekanisme pendaftaran, persyaratan akademik, hingga hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum mengajukan aplikasi.
“Perkenalkan diri kalian, ajukan semua pertanyaan yang kalian miliki dan pelajari sebanyak mungkin hari ini,” katanya sambil tersenyum.
Menurut Christopher, komunikasi secara langsung dengan pihak kampus dapat membantu pelajar mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai pilihan pendidikan mereka. Informasi tersebut penting agar keputusan untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat sesuai dengan kebutuhan akademik, kemampuan, serta rencana jangka panjang masing-masing peserta.
Pameran tersebut tidak hanya menghadirkan universitas. Perwakilan Program Fulbright juga hadir untuk memberikan informasi mengenai berbagai kesempatan beasiswa serta program pendidikan dan pertukaran akademik antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Selain itu, peserta dapat memanfaatkan layanan EducationUSA, yakni layanan konsultasi pendidikan yang didukung Pemerintah Amerika Serikat untuk masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh tentang pendidikan tinggi di AS. Layanan tersebut dapat membantu calon mahasiswa memahami proses pemilihan kampus, penyusunan aplikasi, tahapan penerimaan hingga berbagai pertanyaan yang muncul sebelum keberangkatan.
“Saya sangat mendorong kalian semua untuk memanfaatkan sumber daya gratis ini,” ujar Christopher.
Persoalan visa yang sering menjadi salah satu perhatian calon mahasiswa juga mendapatkan ruang dalam kegiatan tersebut. Perwakilan yang menangani layanan visa dari Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya hadir sehingga peserta dapat menanyakan langsung prosedur maupun berbagai persyaratan yang dibutuhkan.
“Jangan malu untuk bertanya,” tegasnya.
Christopher menuturkan, persiapan menempuh pendidikan di luar negeri mencakup banyak hal. Selain menentukan universitas dan program studi, calon mahasiswa perlu memahami pembiayaan, peluang beasiswa, mekanisme penerimaan mahasiswa, kehidupan di lingkungan kampus dan kota tujuan hingga tahapan memperoleh visa.
Karena itu, pameran pendidikan tersebut diarahkan bukan sekadar sebagai tempat mengumpulkan brosur atau mengenali nama universitas, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda Indonesia untuk memperoleh gambaran konkret mengenai perjalanan akademik di Amerika Serikat.
“Ini merupakan kesempatan luar biasa untuk berbicara langsung dengan universitas-universitas di AS dan menanyakan berbagai hal yang mungkin kalian miliki tentang program, penerimaan, beasiswa, dan lainnya,” katanya.
Christopher juga meminta para peserta melihat pendidikan internasional dalam cakupan yang lebih luas. Pengalaman belajar di Amerika Serikat, menurut dia, dapat menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun pengalaman lintas budaya, serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan untuk perjalanan pendidikan maupun kehidupan profesional mereka pada masa mendatang.
“Yang mungkin lebih penting dari semuanya adalah bagi kalian untuk membayangkan apa yang dapat diberikan oleh pendidikan di AS bagi diri kalian dan masa depan kalian,” tuturnya.
Program pertukaran pendidikan Indonesia-Amerika Serikat juga menjadi salah satu bagian yang diperkenalkan dalam rangkaian kegiatan. AMINEF atau American Indonesian Exchange Foundation memiliki peran dalam pengelolaan sejumlah program pertukaran akademik antara kedua negara.
AMINEF merupakan yayasan nirlaba dwi-nasional Indonesia-Amerika Serikat yang menjalankan fungsi sebagai Komisi Fulbright di Indonesia. Lembaga tersebut mengelola berbagai program pendidikan, penelitian, dan pengembangan profesional yang menghubungkan warga Indonesia dengan institusi pendidikan di Amerika Serikat maupun sebaliknya.
Program yang dikelola mencakup kesempatan studi jenjang magister dan doktor melalui Fulbright, program Foreign Language Teaching Assistant atau FLTA bagi pengajar bahasa, hingga program Visiting Scholar yang memberikan kesempatan penelitian bagi akademisi dan profesional.
Selain itu, terdapat Fulbright Specialist yang memungkinkan institusi di Indonesia menghadirkan pakar atau akademisi asal Amerika Serikat untuk kegiatan tertentu. Berbagai skema tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan akademik sekaligus pertukaran pengetahuan dan pemahaman budaya antara kedua negara.
Kegiatan di The Westin Surabaya itu pada akhirnya menjadi titik temu antara calon mahasiswa Indonesia dengan kampus, penyedia informasi pendidikan, pengelola beasiswa, dan layanan visa. Dari satu ruang pameran, peserta dapat memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai tahapan yang harus ditempuh sebelum memutuskan belajar di Amerika Serikat.
Dengan terbukanya akses informasi langsung dari 21 perguruan tinggi dan universitas AS, para pelajar dan mahasiswa diharapkan memiliki lebih banyak referensi untuk menyusun rencana pendidikan mereka. Pameran tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kesempatan belajar lintas negara tidak hanya dimulai dari keberangkatan, melainkan dari keberanian mencari informasi, bertanya, dan mempersiapkan pilihan pendidikan sejak dini.
