Semarang – Plastik bekas yang kerap berakhir sebagai sampah menemukan “panggung kedua” di tangan kelompok seni Wayang Reged. Material yang lekat dengan persoalan pencemaran itu diolah menjadi karakter wayang, lalu dipertemukan dengan kisah Nusantara melalui pertunjukan kontemporer bertajuk “Mbah Joget Gunung Santri” di Rumah Pohan, Kota Lama Semarang.
Kegiatan yang digelar pada Kamis (17/9/2026) tersebut menghadirkan lakon “Hijrahnya Nyi Dancer Plat H” dengan Ki Sindhunata Ge.W., S.Sn., M.Sn., atau dikenal sebagai Dalang Rock n Roll, sebagai dalang. Pertunjukan ini menggabungkan cerita rakyat, seni pertunjukan, seni rupa, eksplorasi bunyi, gerak, hingga persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern.
Melalui karya tersebut, Wayang Reged membawa kembali cerita Mbah Joget yang dipercaya memiliki jejak sejak sekitar abad ke-15 pada masa Wali Songo. Alih-alih hanya menghadirkan cerita sebagai peninggalan masa lalu, kisah tersebut ditafsirkan melalui sudut pandang kekinian. Limbah plastik pun memperoleh peran penting sebagai tubuh karakter wayang sekaligus bahasa visual untuk menyampaikan persoalan ekologis.
Konsep Wayang Reged dikembangkan melalui pendekatan visual berbasis riset. Selain menyoroti persoalan sampah plastik di Jawa, proyek seni tersebut menggali kembali cerita-cerita Nusantara yang kini semakin jarang terdengar di tengah masyarakat.
Pertemuan dua persoalan itu menjadi inti dari “Mbah Joget Gunung Santri”. Cerita rakyat digunakan untuk membaca kembali hubungan manusia dengan kebudayaan, sedangkan plastik menjadi representasi jejak pola konsumsi masyarakat modern. Barang yang sebelumnya dianggap kotor dan tidak bernilai justru ditempatkan sebagai bagian utama dari karya seni.
Rangkaian kegiatan turut menghadirkan pameran 10 wayang kontemporer yang dibuat dari limbah plastik. Karya Sufan Andy Lukman atau Andy Sueb tersebut menggambarkan sejumlah karakter dalam cerita Mbah Joget. Pameran dikuratori Aristya Kusuma Verdana dan dilengkapi pengantar kebudayaan dari Tri Subekso.
Pengolahan plastik menjadi benda artistik sekaligus menghadirkan refleksi mengenai cara manusia memandang sampah. Material yang telah selesai digunakan tidak selalu harus kehilangan seluruh nilainya. Melalui proses kreatif, benda buangan dapat memperoleh fungsi baru sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan pesan sosial dan lingkungan.
Sebelum pertunjukan wayang berlangsung, kegiatan diawali dengan diskusi kebudayaan bertajuk “Membaca Jejak Wayang dan Aroma Dupa sebagai Ritual Kebudayaan Kontemporer”. Diskusi menghadirkan dr. apt. Mega Puspitasari, S.Farm., M.Sc., dari Jumbuh Meramu Yogyakarta bersama Ki Sindhunata.
Peserta kemudian mengikuti lokakarya pembuatan dupa bersama Mbah Viki dari Jumbuh. Jumbuh Meramu juga membawa karya “Ziarah Tanah”, dupa, serta parfum yang memanfaatkan tanaman obat. Sementara itu, Saparo turut berpartisipasi melalui pop-up store dengan karya berbasis material plastik.
Rangkaian acara mencapai puncaknya melalui pertunjukan wayang kontemporer “Mbah Joget Gunung Santri” dengan lakon “Hijrahnya Nyi Dancer Plat H”. Pertunjukan tersebut tidak menempatkan wayang hanya sebagai artefak tradisional, tetapi sebagai medium seni yang dapat bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Eksplorasi pertunjukan dilakukan melalui perpaduan karakter wayang, musik, bunyi, visual, gerak, serta gagasan mengenai lingkungan. Sejumlah seniman dan kelompok ikut terlibat dalam kolaborasi tersebut, di antaranya Mentari Isnaini, Opera Biru, Indra Prasetiya, Tridhatu, Anandito Aprio, dan Sunyi Ruri.
Kolaborasi lintas disiplin itu menunjukkan bagaimana tradisi dapat berhadapan langsung dengan persoalan kontemporer tanpa kehilangan akar ceritanya. Wayang tidak hanya digunakan untuk mengenang masa lampau, tetapi menjadi ruang untuk membicarakan perilaku manusia, perubahan kehidupan, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan.
Kisah Mbah Joget pun tidak berhenti pada upaya mengenalkan kembali sebuah legenda. Melalui riset, pameran, benda seni, dan pertunjukan, cerita Nusantara tersebut dibawa ke dalam pengalaman bersama. Pada saat bersamaan, penggunaan plastik bekas membuka pembicaraan mengenai tingginya konsumsi material sekali pakai dan pentingnya melihat kembali potensi barang yang selama ini dianggap sampah.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan Dana Indonesia Raya. Sejumlah pihak lain yang turut mendukung antara lain 5050 Art Lab, Mehama Music, Jumbuh, HU Studio, Teater Lingkar, Rumah Pohan, Mentari Menari Dance Studio, serta BINUS University Online.
Lewat “Mbah Joget Gunung Santri”, Wayang Reged mempertemukan ingatan budaya dengan persoalan lingkungan dalam satu panggung. Plastik yang semula dibuang memperoleh kehidupan baru, sementara cerita lama kembali mendapat ruang untuk dibaca generasi hari ini sebagai pengetahuan, refleksi, dan sumber inspirasi.
