Ada satu benda yang belakangan ini hampir selalu menempel di badan saya setiap hari, dari pagi sampai sore. Bukan jaket mahal, bukan tas bermerek, apalagi outfit kekinian. Benda itu cuma sebuah rompi bertuliskan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026).
Kalau dilihat sekilas, mungkin rompi ini biasa saja. Warnanya tidak istimewa dan desainnya juga bukan sesuatu yang bikin orang menoleh. Tapi bagi saya, rompi ini punya cerita yang jauh lebih besar.
Rompi ini sudah menemani saya melewati ratusan pintu. Saya mengetuk rumah demi rumah, bertemu orang dengan karakter yang berbeda-beda, mendengar cerita tentang usaha, keluarga, perjuangan, sampai persoalan hidup yang kadang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Awalnya saya kira menjadi petugas Sensus Ekonomi 2026 itu sederhana. Datang ke lokasi, memperkenalkan diri, bertanya mengenai usaha, mencatat jawaban, lalu pindah ke rumah berikutnya. Ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ada panas matahari, kaki pegal, rumah yang kosong, warga yang menolak, sampai rasa lelah karena harus menjelaskan hal yang sama berkali-kali. Namun, justru dari proses door to door itulah saya mendapatkan banyak pelajaran yang tidak pernah saya dapatkan dari pekerjaan lain.
Dari Pintu yang Tertutup sampai Warga yang Akhirnya Percaya
Hari-hari pertama menjadi petugas sensus terasa cukup menegangkan. Saya masih berusaha menghafal ritme pekerjaan di lapangan dan menyesuaikan diri dengan berbagai karakter masyarakat. Salah satu hal yang paling cepat saya sadari adalah tidak semua pintu akan terbuka ketika diketuk.
Ada rumah yang sudah saya ketuk beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Ada pula yang pintunya hanya dibuka sedikit. Penghuninya melihat rompi yang saya pakai, kemudian memilih menutup pintu kembali tanpa banyak bicara.
Pernah juga saya belum sempat memperkenalkan diri, tetapi warga sudah lebih dulu bertanya dengan nada curiga.
“Ini sensus buat pajak, ya?”
“Data saya nanti dipakai untuk apa?”
“Beneran petugas?”
Pertanyaan seperti itu sebenarnya sangat wajar. Apalagi sekarang informasi di media sosial beredar begitu cepat. Dalam hitungan detik, seseorang bisa menerima video atau unggahan yang membuat mereka takut terhadap kedatangan petugas sensus. Ada anggapan bahwa sensus merupakan modus untuk menarik pajak atau bahkan penipuan yang memanfaatkan identitas petugas.
Jujur, pada awalnya saya sempat merasa kesal. Bayangkan, sudah berjalan cukup jauh di bawah panas matahari, ketika sampai di rumah tujuan justru disambut dengan kecurigaan. Namun, setelah beberapa kali mengalami hal serupa, saya mulai memahami satu hal, mereka tidak mengenal saya.
Bagi warga, saya hanyalah orang yang tiba-tiba datang ke depan rumah menggunakan rompi dan membawa perangkat untuk melakukan pendataan. Mereka tentu punya hak untuk memastikan siapa yang datang dan apa tujuan kedatangannya.
Akhirnya saya memilih untuk tidak mengambil penolakan secara pribadi. Saya menunjukkan kartu identitas petugas, menjelaskan surat tugas, kemudian menerangkan tujuan Sensus Ekonomi 2026 dengan bahasa yang sederhana. Saya berusaha menjelaskan bahwa pendataan ini berkaitan dengan kebutuhan statistik dan gambaran kondisi ekonomi, bukan sekadar untuk mengejar masyarakat agar membayar pajak.
Saya juga memahami bahwa data yang dikumpulkan dalam kegiatan statistik memiliki ketentuan mengenai kerahasiaan. Tidak semua warga langsung percaya. Ada yang tetap menolak meskipun sudah diberikan penjelasan. Kalau sudah begitu, saya memilih pamit dengan baik.
Karena menurut saya, memaksa seseorang untuk menerima kita bukanlah cara yang tepat.
Saya bisa menjelaskan sebaik mungkin. Saya bisa menunjukkan identitas dan surat tugas. Tetapi keputusan terakhir tetap ada di tangan masyarakat.
Dari situlah saya belajar bahwa menjadi petugas sensus bukan hanya membutuhkan kemampuan mencatat data, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, menjaga emosi, dan menghargai keputusan orang lain.
Ratusan Rumah, Ratusan Cerita yang Diam-Diam Mengubah Cara Pandang
Hal lain yang membuat pekerjaan door to door ini menarik adalah kenyataan bahwa setiap rumah punya cerita sendiri.
Dari luar, kita sering merasa bisa menebak kehidupan seseorang. Rumah sederhana dianggap berarti penghuninya sedang kesulitan. Rumah besar dianggap pemiliknya hidup nyaman. Kendaraan bagus dianggap tanda kehidupan yang mapan. Ternyata saya salah.
Ada rumah yang dari luar terlihat sederhana. Namun begitu pintunya terbuka, saya disambut dengan senyum, ditawari minum, bahkan diajak ngobrol cukup lama mengenai usaha yang mereka jalankan.
Sebaliknya, ada rumah yang terlihat sangat bagus, tetapi pemiliknya hanya punya sedikit waktu untuk berbicara. Mungkin sedang sibuk. Mungkin sedang memiliki masalah. Mungkin juga ada hal lain yang tidak saya ketahui. Saya tidak pernah benar-benar tahu.
Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika saya bertemu seorang ibu yang menjalankan usaha kecil-kecilan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Awalnya percakapan kami biasa saja. Saya menanyakan beberapa hal mengenai usahanya dan mencatat informasi yang diperlukan. Namun, di tengah percakapan, suasananya berubah.
Ibu tersebut mulai bercerita tentang perjuangannya mempertahankan usaha. Suaranya perlahan melemah dan matanya terlihat berkaca-kaca. Harapannya sebenarnya sederhana, ia ingin anak-anaknya mempunyai kehidupan yang lebih baik daripada dirinya.
Saat itu saya datang dengan niat mengumpulkan data. Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar angka di formulir. Saya pulang dengan sebuah cerita.
Dari pengalaman seperti itulah saya mulai memahami bahwa data ekonomi sebenarnya tidak pernah benar-benar hanya berisi angka. Di balik satu usaha kecil, ada keluarga yang sedang berjuang. Di balik sebuah warung, ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Di balik aktivitas ekonomi yang terlihat sederhana, ada seseorang yang sedang mempertahankan hidup dan mengejar masa depan.
Itulah bagian dari pekerjaan sensus yang paling mengubah cara pandang saya. Saya bukan cuma melihat angka. Saya sedang melihat kehidupan manusia dari jarak yang sangat dekat.
Ditolak Berkali-Kali Justru Mengajari Saya Arti Sabar dan Empati
Kalau ditanya apa bagian paling melelahkan dari menjadi petugas Sensus Ekonomi 2026, jawabannya bukan hanya berjalan kaki. Capek fisik memang ada. Keliling wilayah dari satu lokasi ke lokasi lain di bawah matahari tentu menguras tenaga. Tetapi ada satu hal yang terkadang terasa lebih berat, yaitu menghadapi penolakan berkali-kali dalam satu hari.
Dulu, penolakan bisa membuat saya kesal. Sekarang saya justru menganggapnya sebagai bagian dari pekerjaan. Kalau sebuah rumah menolak, saya tidak perlu memaksakan diri. Saya cukup mengucapkan terima kasih, kemudian mencoba kembali di waktu lain atau melanjutkan ke rumah berikutnya.
Saya belajar bahwa menghadapi masyarakat membutuhkan kesabaran. Penjelasan yang disampaikan dengan tenang biasanya jauh lebih mudah diterima daripada penjelasan yang diberikan sambil terburu-buru atau terbawa emosi.
Saya juga belajar untuk tidak cepat menghakimi. Sebelum menjalani pekerjaan ini, saya sering merasa kehidupan saya sendiri sudah cukup berat. Ada masalah, ada pekerjaan yang melelahkan, ada target, dan ada berbagai hal yang membuat kepala penuh.
Namun setelah bertemu ratusan orang, pandangan saya berubah.
Ternyata hampir semua orang punya perjuangan masing-masing. Ada orang yang terlihat selalu tersenyum, tetapi mungkin sedang memikirkan utang. Ada pelaku usaha yang terlihat santai, padahal usaha tersebut merupakan satu-satunya sumber penghasilan keluarganya. Ada pula orang yang tampak baik-baik saja, tetapi kita tidak pernah tahu apa yang sedang mereka hadapi ketika pintu rumah sudah tertutup.
Kita memang sangat mudah membandingkan hidup. Melihat orang lain punya kendaraan baru, rumah bagus, usaha ramai, lalu merasa kehidupan sendiri tertinggal. Padahal yang kita lihat hanya bagian luarnya.
Pengalaman door to door selama menjadi petugas sensus membuat saya semakin yakin bahwa kehidupan manusia tidak bisa diukur hanya dari apa yang terlihat.
Karena itu, sekarang saya berusaha berhenti terlalu sering membandingkan hidup saya dengan orang lain. Saya tidak pernah tahu perjuangan yang mereka sembunyikan di balik senyum.
Ketika Rompi SE2026 Nanti Disimpan, Ceritanya Akan Tetap Tinggal
Kalau boleh memberikan pesan kepada masyarakat, saya hanya ingin mengatakan, jangan langsung percaya pada informasi yang beredar di media sosial sebelum memeriksa kebenarannya.
Kalau ada petugas sensus datang ke rumah dan kita merasa ragu, tidak perlu panik. Tanyakan identitasnya, minta diperlihatkan kartu petugas dan surat tugas, lalu tanyakan tujuan kedatangannya.
Menurut saya, memastikan identitas adalah hal yang wajar. Yang penting, semuanya dilakukan dengan komunikasi yang baik.
Untuk sesama petugas sensus yang sedang berjuang di lapangan, saya juga ingin mengatakan satu hal, kalau hari ini ditolak, jangan langsung merasa gagal.
Ditolak itu bagian dari pekerjaan. Capek juga bagian dari pekerjaan. Berjalan jauh, kepanasan, menunggu warga yang belum ada di rumah, bahkan harus mengulang penjelasan yang sama berkali-kali juga bagian dari proses.
Yang penting jangan berhenti menjaga sikap. Karena setelah satu pintu tertutup, masih ada pintu lain yang mungkin akan terbuka. Di balik pintu berikutnya, bisa saja ada cerita yang membuat kita belajar sesuatu yang baru.
Nanti ketika masa tugas Sensus Ekonomi 2026 ini selesai, mungkin rompi yang selama ini saya pakai akan saya lipat dan simpan di dalam lemari. Warnanya mungkin suatu hari akan memudar. Tetapi cerita yang melekat pada rompi itu rasanya tidak akan ikut hilang.
Rompi SE2026 telah menemani saya mengetuk begitu banyak pintu, bertemu begitu banyak orang, mendengar cerita yang beragam, dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Menjadi petugas sensus ternyata bukan cuma soal mengumpulkan data ekonomi. Buat saya pribadi, ini adalah perjalanan untuk belajar memahami manusia. Satu pintu, satu rumah, satu cerita dalam satu waktu.
Dan pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang setiap hari sederhana saja, jangan pernah mengukur kebahagiaan kita dari kehidupan orang lain, karena di balik setiap pintu selalu ada perjuangan yang tidak terlihat dari luar.
Oleh: Riyawan S,Hut
Pemerhati Sosial & Budaya
