Jember – Musim kemarau seolah membuka “peta kerawanan” bencana di Kabupaten Jember. Bukan hanya ancaman kekurangan air bersih, sejumlah kawasan juga menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sementara kejadian gempa bumi hingga kecelakaan laut turut menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember.
Berbagai kondisi kebencanaan tersebut dibahas dalam Ruang Diskusi Media yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember bersama BPBD dan insan pers pada Selasa (1/9/2026). Kegiatan berlangsung di Ruang Pusdalops BPBD Kabupaten Jember mulai pukul 14.00 hingga 15.30 WIB dengan melibatkan 14 jurnalis. BPBD Jember bertindak sebagai narasumber sekaligus tuan rumah dalam forum yang membahas perkembangan bencana serta langkah penanganannya.
Kepala BPBD Kabupaten Jember, Dr. Drs. Edy Budi Susilo, M.Si., mengungkapkan bahwa kekeringan menjadi salah satu bencana yang menonjol selama musim kemarau. Berdasarkan penanganan BPBD, dampak kekeringan telah ditemukan di delapan kecamatan di wilayah Kabupaten Jember.
“Selama musim kemarau ini, Kabupaten Jember mengalami bencana kekeringan yang melanda delapan kecamatan. Selain itu terdapat sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan yang telah kami tangani bersama unsur terkait,” ujar Edy dalam diskusi tersebut.
Penanganan bencana tersebut tidak dilakukan BPBD secara sendiri. Koordinasi dengan instansi dan unsur terkait menjadi bagian penting dalam merespons kejadian di lapangan, terutama ketika musim kemarau meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kekurangan air maupun munculnya titik kebakaran hutan dan lahan.
Selain membicarakan kekeringan dan karhutla, forum tersebut juga mengulas berbagai kejadian kebencanaan lain yang tercatat selama periode kemarau. Gempa bumi serta kecelakaan laut menjadi bagian dari peristiwa yang dipaparkan BPBD kepada awak media. Kronologi sejumlah kejadian turut dijelaskan untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai situasi serta respons pemerintah daerah.
BPBD juga memaparkan tahapan penanganan yang telah dilakukan bersama instansi terkait. Penyampaian informasi tersebut menjadi penting karena karakter bencana di Kabupaten Jember tidak hanya berkaitan dengan perubahan musim, tetapi juga mencakup kejadian alam lain yang membutuhkan kesiapsiagaan dan koordinasi lintas pihak.
Ruang Diskusi Media tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk mempererat hubungan komunikasi antara BPBD, Diskominfo, dan insan pers. Media memiliki posisi penting dalam menjembatani informasi dari pemerintah kepada masyarakat, khususnya ketika terjadi kondisi darurat maupun muncul potensi bencana yang memerlukan kewaspadaan bersama.
Keterbukaan informasi kebencanaan juga dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mitigasi. Informasi yang disampaikan secara cepat, akurat, serta dapat dipertanggungjawabkan dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi terkini sekaligus mengambil langkah kewaspadaan sesuai situasi di wilayah masing-masing.
Pada musim kemarau, kebutuhan terhadap informasi tersebut semakin besar. Kekeringan dapat berdampak terhadap ketersediaan air masyarakat, sementara kondisi vegetasi dan lahan yang lebih kering dapat meningkatkan potensi kebakaran. Karena itu, penyampaian informasi mengenai kejadian maupun langkah penanganan diharapkan tidak berhenti pada saat bencana terjadi, tetapi juga mendukung peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Sinergi pemerintah daerah dengan media pun diharapkan membuat penyebaran informasi kebencanaan semakin luas. Melalui komunikasi yang terbangun antara Diskominfo, BPBD, dan jurnalis, masyarakat dapat memperoleh perkembangan mengenai potensi bencana maupun kejadian yang sedang ditangani melalui sumber informasi yang jelas.
Diskusi tersebut pada akhirnya menegaskan bahwa musim kemarau membawa tantangan kebencanaan yang perlu dihadapi bersama. Dengan kekeringan yang telah menjangkau delapan kecamatan serta adanya penanganan karhutla dan kejadian lainnya, BPBD Jember terus mendorong koordinasi antarpihak sekaligus memperkuat keterbukaan informasi agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko bencana. (ADV).
