Samarinda – Kabut asap bukan sekadar tirai kelabu yang menutup pandangan, tetapi juga ancaman yang dapat mengintai kesehatan pernapasan masyarakat. Kepedulian terhadap kondisi tersebut mendorong H. Arif Kurniawan, S.P., M.M. membagikan ribuan masker gratis kepada para pelajar di Kota Samarinda sebagai langkah pencegahan terhadap risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Aksi sosial tersebut berlangsung pada pagi hari menjelang jam masuk sekolah di kawasan Simpang Lampu Merah Air Putih, Samarinda. Pelajar yang melintas menuju sekolah menjadi sasaran utama pembagian masker. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap kelompok usia sekolah yang dinilai cukup rentan karena memiliki aktivitas rutin di luar ruangan ketika kualitas udara mengalami penurunan akibat kabut asap.
Arif Kurniawan menilai kondisi asap yang muncul di sejumlah wilayah Kalimantan harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, perlindungan terhadap anak-anak dan pelajar perlu diperkuat, terutama ketika aktivitas sehari-hari membuat mereka harus berhadapan langsung dengan udara luar yang berpotensi tercemar.
“Kita ingin memastikan anak-anak kita tetap terlindungi dari dampak kabut asap. Masker ini mungkin sederhana, tetapi mudah-mudahan bisa membantu mengurangi risiko gangguan pernapasan, terutama ISPA,” ujar Arif Kurniawan.
Pembagian masker tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi paparan langsung terhadap partikel di udara. Selain memberikan masker, kegiatan itu juga membawa pesan agar masyarakat semakin sadar terhadap pentingnya tindakan pencegahan ketika kualitas udara memburuk, khususnya dengan menggunakan pelindung pernapasan saat beraktivitas di luar rumah.
Arif menekankan bahwa upaya menjaga kesehatan masyarakat tidak seharusnya hanya dilakukan setelah seseorang mengalami gangguan kesehatan. Pencegahan, menurut dia, menjadi bagian penting yang harus dibangun melalui kebiasaan sehari-hari, termasuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kualitas udara serta membatasi paparan kabut asap.
Perhatian terhadap kesehatan tersebut juga dikaitkan dengan upaya menjaga lingkungan. Arif mengingatkan bahwa persoalan kabut asap tidak dapat dipisahkan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, masyarakat diminta ikut menjaga lingkungan sekaligus mencegah berbagai tindakan yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
“Kita jaga alam kita, kita jaga generasi kita. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban dari kerusakan lingkungan dan kebakaran yang terjadi karena ulah manusia,” tegasnya.
Menurutnya, menjaga lingkungan berarti sekaligus menjaga kualitas hidup generasi mendatang. Kebakaran yang memicu pencemaran udara tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi alam, tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.
Arif turut meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya kebakaran. Ia juga mendorong adanya langkah hukum yang tegas apabila ditemukan pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara sengaja.
“Waspada kebakaran. Tangkap dan tindak tegas pelaku pembakaran. Penegakan hukum harus dilakukan agar ada efek jera dan kejadian serupa tidak terus berulang,” katanya.
Penegakan hukum dinilai penting untuk mencegah tindakan pembakaran kembali terjadi. Bersamaan dengan itu, peran masyarakat dalam mendeteksi potensi kebakaran sejak dini dan menjaga lingkungan sekitar juga menjadi bagian yang tidak kalah penting dalam mengurangi risiko kabut asap.
Pembagian ribuan masker kepada pelajar di Samarinda akhirnya tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan sosial untuk memberikan perlindungan kesehatan. Aksi tersebut sekaligus membawa ajakan lebih luas agar masyarakat menjaga kualitas udara, memperhatikan kesehatan anak-anak, meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran, serta bersama-sama mempertahankan kelestarian lingkungan Kalimantan bagi generasi berikutnya.
