Jombang – “Berubah atau tertinggal” menjadi tantangan yang kini berdiri di depan pintu pesantren. Pengasuh Pondok Pesantren Insan Mulia, KH Imam Jazuli, Lc., M.A., mengingatkan lembaga pendidikan pesantren agar berani melakukan transformasi untuk menjawab perubahan kebutuhan masyarakat dan masa depan generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi.
Pandangan tersebut disampaikan KH Imam Jazuli dalam Majelis Halaqah Nasional yang diselenggarakan Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Se-Indonesia (MP3I) di Aula Lantai 3 Gedung KH. M. Yusuf Hasyim, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (27/8/2026). Menurutnya, era disrupsi telah mengubah bukan hanya cara masyarakat berkomunikasi dan memperoleh informasi, tetapi juga pertimbangan orang tua ketika memilih lembaga pendidikan bagi anak-anak mereka.
Jika pada masa lalu figur seorang kiai menjadi salah satu pertimbangan utama masyarakat dalam menentukan pesantren, situasi saat ini dinilai jauh lebih kompleks. Kualitas pendidikan, minat anak, kebutuhan kompetensi, kesempatan melanjutkan pendidikan, hingga prospek karier menjadi bagian dari pertimbangan keluarga sebelum menentukan pilihan.
“Kalau dulu orang memasukkan anak ke pesantren karena kiai, sekarang pertimbangannya sudah berubah. Ada kebutuhan, minat, dan manfaat yang ingin diperoleh untuk masa depan,” jelasnya.
Perubahan pola pikir tersebut, menurut KH Imam Jazuli, harus dibaca sebagai tantangan sekaligus peluang bagi pengelola pesantren. Ia menilai perubahan zaman pada dasarnya tidak otomatis membuat sebuah lembaga kehilangan eksistensi. Namun, ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan baru dapat membuat suatu institusi perlahan tertinggal.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut dengan dinamika yang terjadi di dunia industri. Sejumlah perusahaan yang sebelumnya mendominasi pasar dapat mengalami kemunduran ketika gagal membaca perkembangan, sedangkan pemain baru justru tumbuh karena mampu menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Fenomena serupa dinilai mulai menyentuh dunia pendidikan pesantren. Berkurangnya ketertarikan sebagian masyarakat terhadap pesantren, kata dia, tidak serta-merta menunjukkan melemahnya minat terhadap pendidikan agama. Perubahan tersebut juga berhubungan dengan meningkatnya harapan orang tua terhadap pendidikan dan masa depan anak.
“Dulu orang tua memasukkan anak ke pesantren supaya menjadi anak saleh. Sekarang selain saleh, mereka juga memikirkan masa depannya, kuliahnya di mana, dan nanti bisa bekerja sebagai apa,” ujarnya.
Karena itu, pesantren didorong tidak membatasi orientasi pendidikan santri hanya untuk menjadi kiai atau ustaz. Santri juga memiliki peluang dan cita-cita untuk berkiprah sebagai akademisi, diplomat, pejabat publik, pengusaha maupun berbagai profesi lain. Tantangannya adalah bagaimana lembaga pesantren menyediakan sistem pendidikan yang dapat membuka jalan menuju beragam pilihan tersebut tanpa menghilangkan identitas keislamannya.
“Pesantren harus melakukan transformasi. Kurikulum perlu diperbarui dengan memasukkan pelajaran umum agar tidak tertinggal,” tegasnya.
Pembaruan itu, menurutnya, juga harus menjangkau metode pembelajaran. Sistem belajar yang efektif, relevan, dan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dibutuhkan agar para santri memperoleh kompetensi yang sesuai dengan tantangan masa depan. Modernisasi metode tersebut tetap perlu berjalan beriringan dengan tradisi pesantren dan nilai keberkahan dalam proses menuntut ilmu.
Fasilitas pendidikan turut menjadi bagian yang dinilai perlu memperoleh perhatian. Pesantren didorong menyediakan ruang pengembangan teknologi, bahasa asing, sains, dan berbagai keterampilan yang memungkinkan santri bersaing pada tingkat nasional maupun global.
Model integrasi antara tradisi pesantren dan pendidikan modern sebenarnya telah berkembang di lingkungan Pesantren Tebuireng. Pesantren tersebut memiliki berbagai unit pendidikan dengan karakter yang beragam, mulai dari Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari yang mempertahankan sistem pendidikan salaf hingga lembaga formal seperti MTs Salafiyah Syafi’iyah, SMP A. Wahid Hasyim, MA Salafiyah Syafi’iyah, SMA A. Wahid Hasyim, dan SMK Plus Khoiriyah Hasyim.
Pada tingkat pendidikan tinggi, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari mengembangkan kajian keislaman berbasis kitab kuning dengan kekhasan pesantren. Lembaga yang didirikan pada 6 September 2006 tersebut saat ini menyelenggarakan pendidikan akademik jenjang sarjana atau marhalah ula dan magister atau marhalah tsaniyah, dengan program takhassus Hadits wa Ulumuhu.
Pendekatan berbeda berkembang melalui SMA Trensains Tebuireng yang mengintegrasikan pendidikan pesantren dengan pengembangan sains. Sekolah yang diresmikan pada 23 Agustus 2014 itu menerapkan konsep “kurikulum semesta”, yakni perpaduan kurikulum nasional, perluasan kurikulum internasional, dan Muatan Kearifan Pesantren Sains.
Ekosistem pendidikan berbasis sains kemudian diperluas melalui SMP Sains Tebuireng, MA Sains Tebuireng Putri serta MTs Sains Putri Salahuddin Wahid. Di bidang keterampilan vokasi, SMK Plus Khoiriyah Hasyim mengembangkan program Multimedia dan Desain Komunikasi Visual serta pernah menjadi bagian dari penyelenggaraan SMK Mini di Jawa Timur untuk mendorong terciptanya peluang kerja di masyarakat sekitar.
Keragaman lembaga tersebut memperlihatkan ruang yang dapat dikembangkan pesantren untuk menjaga tradisi keilmuan agama sekaligus merespons kebutuhan pendidikan kontemporer. Integrasi antara pendidikan agama, ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, dan keterampilan menjadi salah satu jalur agar lulusan pesantren mempunyai pilihan masa depan yang semakin luas.
KH Imam Jazuli mengatakan gagasan transformasi itu bukan sebatas konsep. Ia telah melakukan riset sejak 2010 sebelum membangun Pondok Pesantren Insan Mulia pada 2013. Respons masyarakat terhadap lembaga tersebut, menurutnya, memperlihatkan bahwa pesantren yang memberikan perhatian serius pada kualitas pendidikan dan masa depan lulusan memiliki peluang berkembang.
Ia menilai pelayanan terhadap santri dan manajemen pendidikan juga tidak boleh diabaikan. Pesantren, termasuk lembaga-lembaga yang berada di lingkungan Nahdlatul Ulama, perlu membaca perubahan ekspektasi masyarakat dan menjadikannya pijakan untuk melakukan inovasi tanpa meninggalkan nilai dasar pesantren.
“Kalau pesantren tidak berkembang dan tidak siap menghadapi perubahan dunia, persoalannya bukan pada santri, tetapi pada pemimpin pesanterennya yang belum mampu melakukan transformasi,” pungkasnya.
Transformasi pesantren pada akhirnya tidak berarti meninggalkan tradisi yang selama ini menjadi fondasinya. Tantangannya justru terletak pada kemampuan menjaga kekuatan pendidikan agama sambil memperluas akses santri terhadap sains, teknologi, pendidikan tinggi, dan dunia profesional. Dengan langkah tersebut, pesantren berpeluang tetap menjadi pusat pendidikan karakter sekaligus melahirkan generasi yang mampu mengambil peran di berbagai bidang kehidupan.
