Mojokerto – Lantunan sholawat seperti menjadi “payung doa” yang menaungi ribuan warga di kawasan Jalan Ngoro Industri Park (NIP), Kabupaten Mojokerto, Senin (24/8/2026) malam. Masyarakat memadati lokasi kegiatan Ngoro Bersholawat: Jogo Bumi Mojopahit yang digelar untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Majelis dzikir dan sholawat tersebut menjadi ruang pertemuan antara semangat kebangsaan dan nilai keagamaan masyarakat Mojokerto. Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa atau Gus Bupati hadir langsung bersama Camat Ngoro Harfendy Setiyapraja, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca), tokoh agama, serta masyarakat. Kegiatan yang diinisiasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kecamatan Ngoro itu berlangsung dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan panitia peringatan hari besar nasional di wilayah setempat.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Bupati menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara. Menurutnya, terselenggaranya majelis sholawat tidak terlepas dari kerja bersama pemerintah kecamatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, panitia, hingga warga yang mendukung kegiatan tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Mojokerto, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada panitia PHBN Kecamatan Ngoro, Pemerintah Kecamatan Ngoro, para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh masyarakat yang telah bersama-sama menyelenggarakan kegiatan ini,” ucap Gus Bupati pada acara yang diinisiasi oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kecamatan Ngoro itu.
Selain menjadi agenda peringatan hari besar, kegiatan tersebut dinilai memiliki makna lebih luas sebagai momentum introspeksi. Muhammad Albarraa mengajak masyarakat menjadikan sholawat sebagai sarana memperbaiki kualitas diri, baik dalam kehidupan spiritual maupun hubungan sosial. Perubahan positif, menurut dia, perlu dimulai dari kesadaran setiap individu serta kelompok masyarakat agar kemajuan daerah dapat tumbuh dari lingkungan paling dekat.
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut yang mengubah perbuatan mereka sendiri, dan saya percaya bahwa terselenggaranya acara sholawat ini merupakan bentuk ikhtiar panjenengan semuanya agar menjadi lebih baik lagi kedepannya,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada program pemerintah. Partisipasi masyarakat, kekuatan kebersamaan, serta kemauan melakukan perbaikan menjadi unsur penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang lebih baik. Melalui kegiatan keagamaan, masyarakat juga diharapkan dapat memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI juga dimanfaatkan untuk mengenang jasa para pejuang yang telah mempertaruhkan tenaga dan kehidupan demi kemerdekaan bangsa. Gus Bupati mengajak jamaah mengirimkan doa bagi para pahlawan serta memohon agar kedamaian yang dirasakan saat ini tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Mari kita doakan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, kita doakan juga agar kemerdekaan dan kedamaian juga dirasakan oleh anak-cucu dan para penerus kita nanti,” imbaunya.
Peringatan kemerdekaan yang beriringan dengan penyambutan Maulid Nabi Muhammad SAW pun menghadirkan suasana yang berbeda. Selain mengenang perjalanan bangsa, masyarakat diajak meneladani nilai-nilai keagamaan, memperkuat persaudaraan, serta menjaga keharmonisan di wilayah yang memiliki akar sejarah kuat dengan Kerajaan Majapahit tersebut.
Sebelum menghadiri Ngoro Bersholawat, Muhammad Albarraa juga mengikuti kegiatan serupa di Desa Sidomulyo, Kecamatan Bangsal. Kehadirannya dalam sejumlah majelis keagamaan itu menunjukkan dukungan Pemerintah Kabupaten Mojokerto terhadap kegiatan masyarakat yang menggabungkan semangat religius, kebangsaan, dan kebersamaan.
Melalui Jogo Bumi Mojopahit, peringatan kemerdekaan tidak hanya diisi dengan seremoni, tetapi juga doa bersama untuk keselamatan masyarakat dan bangsa. Ribuan jamaah yang berkumpul di Ngoro menjadi gambaran bagaimana semangat kemerdekaan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dapat bertemu dalam satu ikhtiar: menjaga kedamaian serta merawat persatuan di Bumi Majapahit.
