Malang – Menghadapi tantangan perubahan iklim tidak selalu harus dimulai melalui proyek berskala besar. Langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan. Semangat inilah yang diwujudkan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) melalui implementasi Smart Green Campus (SGC) 2026, sebuah gerakan yang mendorong seluruh sivitas akademika membangun budaya kampus yang lebih hemat energi, minim sampah, dan ramah lingkungan.
Berbagai inisiatif yang dijalankan tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas hijau, tetapi juga mengubah kebiasaan sehari-hari warga kampus. Mulai dari membiasakan penggunaan tumbler melalui penyediaan Water Station, mengurangi penggunaan kertas melalui digitalisasi administrasi, memilah sampah, memanfaatkan kembali botol plastik menjadi media tanam, hingga mengoptimalkan pencahayaan alami sebagai upaya menghemat konsumsi energi.
Sebagai langkah awal, FPIK UB membentuk Tim Smart Green Campus dan Sustainable Development Goals (SDGs) yang bertugas mengoordinasikan berbagai program keberlanjutan di tingkat fakultas. Tim ini mengintegrasikan berbagai aspek pengelolaan lingkungan, mulai dari penguatan budaya Reduce, Reuse, Recycle (3R), efisiensi penggunaan energi dan air, hingga pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengelolaan lingkungan kampus yang lebih efektif.
Implementasi tersebut diwujudkan melalui berbagai aksi sederhana yang melibatkan seluruh sivitas akademika. Di bidang energi, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa didorong untuk mematikan lampu maupun pendingin ruangan ketika tidak digunakan serta memanfaatkan cahaya alami pada siang hari. Sementara pada aspek administrasi, berbagai layanan mulai beralih menuju sistem digital untuk mengurangi penggunaan kertas sekaligus meningkatkan efisiensi kerja.
Komitmen terhadap pengurangan sampah juga diwujudkan melalui pengelolaan limbah organik dari kantin fakultas, penyediaan tempat khusus untuk botol plastik, hingga pemanfaatan botol bekas sebagai media tanam pada area vertical garden. Berbagai langkah tersebut tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah, tetapi juga mengubah limbah menjadi elemen yang mempercantik lingkungan kampus.
FPIK UB juga menyediakan Water Station sebagai fasilitas pengisian ulang air minum yang mendorong sivitas akademika membawa botol minum sendiri. Kebiasaan sederhana ini diharapkan mampu mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai sekaligus menumbuhkan budaya konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Berbagai upaya tersebut sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, SDG 7 (Affordable and Clean Energy) melalui penghematan energi, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengurangan sampah dan penerapan prinsip ekonomi sirkular, SDG 13 (Climate Action) melalui penguatan budaya rendah emisi di lingkungan kampus, serta SDG 15 (Life on Land) melalui penghijauan dan peningkatan kualitas ruang terbuka hijau.
Komitmen tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan asesmen Program Smart Green Campus Universitas Brawijaya, implementasi SGC di FPIK UB telah mencakup lima dimensi utama, yaitu Waste, Water, Energy & Climate, Setting & Infrastructure, serta Transportation. Dari kelima aspek tersebut, dimensi Setting & Infrastructure menjadi capaian terbaik, sementara penguatan pada aspek pengelolaan sampah, konservasi air, efisiensi energi, dan transportasi ramah lingkungan terus dilakukan secara berkelanjutan.
Ketua Tim Smart Green Campus FPIK UB, Prof. Defri Yona, menegaskan bahwa keberhasilan kampus hijau tidak hanya diukur dari tersedianya berbagai fasilitas pendukung, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran seluruh warga kampus.
“Smart Green Campus bukan sekadar program, melainkan perubahan budaya. Langkah-langkah sederhana seperti menghemat energi, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, hingga memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna merupakan kontribusi nyata setiap individu dalam mendukung aksi iklim. Kami berharap budaya ini terus berkembang dan menjadi karakter sivitas akademika FPIK Universitas Brawijaya,” ujarnya.
Melalui Smart Green Campus, FPIK Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari lingkungan kampus melalui perubahan kebiasaan sehari-hari. Dengan mengintegrasikan pendidikan, pengelolaan lingkungan, dan partisipasi seluruh sivitas akademika, FPIK UB terus memperkuat perannya sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam bidang kelautan dan perikanan, tetapi juga berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan.
