Malang – Berada di kawasan kepulauan yang masuk kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), Pulau Saseel di Kabupaten Sumenep menyimpan potensi besar di sektor kelautan dan perikanan. Namun, keterbatasan akses teknologi, pendidikan, dan infrastruktur masih menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat setempat. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (PSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB), membawa berbagai inovasi melalui Kampestan Social Scientific Expedition (KSSE) Vol. 9 sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Sebanyak 25 mahasiswa PSP FPIK UB akan menjalankan misi pengabdian di Pulau Saseel setelah secara resmi dilepas pada Selasa (30/6/2026). Program yang menjadi agenda unggulan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (HMP PSP) ini tidak sekadar menghadirkan kegiatan sosial, tetapi juga mengimplementasikan berbagai inovasi di bidang perikanan, pendidikan, dan pelestarian lingkungan yang dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat pesisir.
Mengusung tema “The Green and Blue Project”, KSSE Vol. 9 mengintegrasikan kegiatan penelitian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Pendekatan tersebut sejalan dengan komitmen FPIK UB dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kualitas pendidikan masyarakat, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan sektor perikanan lokal, SDG 14 (Life Below Water) melalui penerapan praktik perikanan berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat pesisir.

Pada bidang perikanan, mahasiswa akan memperkenalkan sejumlah inovasi untuk meningkatkan produktivitas budidaya rumput laut, di antaranya penerapan kalsium silikat, probiotik Bacillus, metode spacing, hingga pengembangan Eco Coolbox, teknologi sederhana yang dirancang untuk membantu nelayan mempertahankan kualitas hasil tangkapan selama proses distribusi.
Sementara itu, pada sektor pendidikan, mahasiswa akan mendampingi anak-anak di Pulau Saseel melalui program calistung, pembelajaran berbasis gamification, edukasi hemat air, hingga pelatihan pertolongan pertama (P3K). Berbagai kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menumbuhkan semangat belajar generasi muda di wilayah kepulauan.
Komitmen terhadap kelestarian lingkungan juga menjadi bagian penting dari program ini. Tim KSSE akan mengajak masyarakat menerapkan sistem pembakaran sampah minim asap, mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, serta membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pesisir sebagai penopang keberlanjutan sumber daya kelautan.
Dalam acara pelepasan, Ketua Program Studi PSP bersama jajaran dosen berpesan agar seluruh peserta menjaga nama baik Universitas Brawijaya, menghormati budaya masyarakat setempat, serta menjadikan kegiatan ini sebagai ruang belajar yang tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membangun empati dan kepedulian sosial.
Bagi mahasiswa, KSSE menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Mereka dituntut mampu bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mengidentifikasi permasalahan lapangan, hingga merancang solusi yang aplikatif dan berkelanjutan.
Melalui KSSE Vol. 9, Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan FPIK Universitas Brawijaya kembali menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menghadirkan inovasi yang dapat meningkatkan kesejahteraan. Diharapkan, berbagai program yang dijalankan di Pulau Saseel mampu memberikan manfaat jangka panjang, memperkuat kapasitas masyarakat pesisir, sekaligus mendorong terwujudnya pembangunan kelautan yang inklusif dan berkelanjutan.
