Batu – Kota Batu dikenal dengan udara sejuk yang menjadi daya tarik wisata. Namun, di balik keunggulan tersebut, terdapat tantangan bagi para pembudidaya ikan lele. Suhu air yang relatif rendah dapat memengaruhi kesiapan induk, keberhasilan pemijahan, daya tetas telur, hingga tingkat kelangsungan hidup larva. Untuk menjawab tantangan tersebut, Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan pembinaan teknis pemijahan semi buatan bagi penyuluh, teknisi, dan kelompok pembenihan ikan di Kota Batu.
Kegiatan yang berlangsung pada 26 Juni 2026 ini menjadi bagian dari komitmen FPIK UB dalam mendukung penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor perikanan budidaya melalui penerapan teknologi yang adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat. Pembinaan menghadirkan dua narasumber, Dr. Fani Fariedah, S.Pi., M.P. dan Soko Nuswantoro, yang membagikan pengalaman serta teknik pemijahan semi buatan ikan lele berdasarkan praktik dan perkembangan teknologi budidaya terkini.
Peserta mendapatkan materi mulai dari pemilihan induk yang berkualitas, persiapan media pemijahan, penanganan induk sebelum pemijahan, teknik stimulasi pemijahan, penanganan telur, hingga strategi meningkatkan daya tetas dan kualitas benih. Kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif sehingga peserta dapat menyampaikan berbagai kendala yang mereka hadapi selama melakukan pembenihan di lapangan.
Melalui transfer pengetahuan ini, FPIK UB turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan produksi perikanan budidaya, SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kapasitas pelaku perikanan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong produktivitas usaha pembenihan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Hendry Suseno, S.P., M.M., yang hadir bersama Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan Sri Nurcahyani Rahayu, S.Pt., menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan keterampilan teknis para pembenih ikan di Kota Batu.
Menurutnya, karakteristik lingkungan Kota Batu yang berbeda dengan sentra budidaya lele di daerah lain menuntut adanya pendekatan teknologi yang lebih adaptif agar produktivitas pembenihan tetap dapat ditingkatkan.
Ketua Program Studi Budidaya Perairan FPIK UB, Seto Sugianto Prabowo Rahardjo, S.T., M.T., Ph.D., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal dari kolaborasi yang lebih berkelanjutan dengan Balai Benih Ikan Kota Batu.
“Kami berharap pendampingan ini tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Ke depan, kami ingin membangun pendampingan yang berkesinambungan sehingga teknologi pemijahan semi buatan dapat diterapkan secara optimal dan mampu menghasilkan benih lele yang sehat, berkualitas, serta sesuai dengan kebutuhan pembudidaya,” ujarnya.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pelaku perikanan, FPIK UB terus mendorong lahirnya inovasi yang dapat menjawab tantangan budidaya di berbagai wilayah dengan karakteristik lingkungan yang berbeda. Pendampingan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis para pembenih, tetapi juga memperkuat kemandirian sektor perikanan budidaya di Kota Batu melalui penyediaan benih lele yang berkualitas, produktif, dan berkelanjutan.
