Mencari pengakuan menjadi perjalanan yang tidak sedikit dijalani perempuan. Keinginan untuk berkembang, berkarya, dan menunjukkan kemampuan merupakan hal yang baik. Perempuan memiliki kesempatan untuk belajar, berkontribusi, serta menghadirkan manfaat bagi banyak orang. Namun, ada kalanya semangat itu bergeser menjadi tuntutan untuk terus membuktikan diri. Seolah nilai seorang perempuan hanya diukur dari seberapa banyak pencapaian yang berhasil diraih.
Di berbagai ruang kehidupan, perempuan sering berhadapan dengan standar yang terus berubah. Mereka diharapkan mampu sukses dalam karier, hadir sepenuhnya bagi keluarga, aktif dalam lingkungan sosial, sekaligus tetap memenuhi berbagai ukuran yang dibentuk masyarakat. Tidak sedikit yang akhirnya merasa harus selalu kuat, tidak boleh mengeluh, dan harus mampu menyelesaikan semuanya seorang diri. Di balik senyum yang terlihat, ada hati yang diam-diam menyimpan lelah.
Pertanyaannya, sampai kapan perempuan harus terus mengejar pengakuan?
Islam tidak melarang perempuan untuk berilmu, bekerja, maupun memberikan kontribusi bagi masyarakat. Sejarah bahkan mencatat banyak perempuan mulia yang berperan besar dalam dakwah, pendidikan, perdagangan, hingga kehidupan sosial. Namun, Islam juga mengingatkan bahwa kemuliaan seorang perempuan tidak pernah bergantung pada tepuk tangan manusia. Nilai dirinya tidak bertambah karena pujian, dan tidak berkurang karena penilaian orang lain.
Allah memberikan jawaban yang menenangkan melalui Surah Al-Ahzab ayat 35. Dalam ayat tersebut, Allah menyebut laki-laki dan perempuan secara berdampingan, lalu menyandingkan keduanya dengan sifat-sifat yang dicintai-Nya, seperti iman, kejujuran, kesabaran, kekhusyukan, kedermawanan, menjaga kehormatan, dan banyak mengingat Allah. Ayat ini mengalihkan fokus dari persaingan menuju ketakwaan. Yang menjadi ukuran bukan siapa yang lebih hebat di mata manusia, melainkan siapa yang lebih dekat kepada Allah.
Pesan ini mengandung makna yang dalam bagi perempuan. Tidak semua hal harus diperjuangkan dengan menjadi sama dengan orang lain. Allah menciptakan setiap manusia dengan potensi, amanah, dan jalan hidup yang berbeda. Perbedaan itu bukan untuk membatasi, melainkan agar setiap orang dapat menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya sesuai ketetapan-Nya.
Karena itu, perempuan tidak perlu menjadikan pengakuan sebagai tujuan hidup. Jika setiap langkah hanya diarahkan untuk memperoleh validasi dari manusia, maka kepuasan akan terus menjauh. Akan selalu ada standar baru yang harus dipenuhi dan pencapaian lain yang harus diraih. Perlombaan itu seakan tidak memiliki garis akhir.
Sebaliknya, ketika tujuan hidup diarahkan kepada ridha Allah, hati akan menemukan ketenangan. Perempuan tetap dapat bermimpi, belajar, bekerja, dan berkarya. Namun, semua itu dilakukan bukan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih unggul, melainkan sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.
Barangkali, pertanyaan yang perlu direnungkan bukan lagi, “Bagaimana agar dunia mengakui kemampuanku?” Melainkan, “Apakah langkah yang kujalani masih membawaku semakin dekat kepada Allah?” Sebab, pengakuan manusia bersifat sementara, sedangkan ridha Allah adalah tujuan yang kekal.
Pada akhirnya, jalan pulang seorang perempuan bukanlah ketika seluruh dunia mengakui keberadaannya. Jalan pulang itu adalah saat ia berdamai dengan fitrah yang Allah titipkan, menerima dirinya sebagai hamba-Nya, lalu menjalani kehidupan dengan iman, amal saleh, dan keyakinan bahwa kemuliaan sejati lahir dari ketakwaan, bukan dari pengakuan manusia.
