Jember – Denting bambu egrang dan riuh tawa anak-anak kembali menggema di kawasan Pasar Lumpur Desa Sumber Lesung, Kecamatan Ledokombo, saat Festival Egrang Tanoker ke-14 resmi diluncurkan, Jumat (9/5/2026). Festival budaya tahunan yang telah menjadi ikon Kecamatan Ledokombo itu hadir membawa semangat pelestarian budaya lokal di tengah derasnya perkembangan era digital.
Mengusung tema “Membangun Harmoni Komunitas Melalui Permainan Tradisional”, festival tersebut menjadi ruang pertemuan antara budaya tradisional dan perkembangan teknologi modern. Kegiatan berlangsung meriah dengan dihadiri Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Nezar Patria, PJ Sekda Kabupaten Jember Akhmad Helmi Luqman, Kepala Dinas Komunikasi dan Digital Kabupaten Jember Regar Jean Nangka, unsur Muspika Kecamatan Ledokombo, hingga para kepala desa se-Kecamatan Ledokombo.
Kedatangan para tamu disambut penampilan tarian egrang dari pemuda-pemudi Ledokombo yang tampil atraktif dan penuh semangat. Tidak hanya itu, anak-anak SDN Lembengan 03 juga turut memeriahkan acara melalui pertunjukan seni yang mendapat sambutan hangat dari para undangan dan masyarakat.
Nuansa tradisional semakin terasa dengan hadirnya berbagai stan kuliner khas daerah dan kerajinan tangan masyarakat lokal. Festival tersebut tidak hanya menjadi ajang hiburan budaya, tetapi juga ruang promosi bagi produk kreatif masyarakat Ledokombo.
Dalam sambutannya, PJ Sekda Kabupaten Jember Akhmad Helmi Luqman menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Festival Egrang Tanoker ke-14 yang tahun ini juga bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional. Menurutnya, festival tersebut menjadi bukti nyata bahwa budaya tradisional masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman.
Ia menyebut kehadiran Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya lokal yang dikolaborasikan dengan perkembangan teknologi digital.
“Festival Egrang adalah bukti bahwa tradisi tidak pernah kehilangan makna. Permainan tradisional bukan hanya hiburan, tetapi juga media pendidikan karakter yang mengajarkan keseimbangan, keberanian, kerja sama, dan sportivitas,” ungkap Akhmad Helmi Luqman.
Menurutnya, tema festival tahun ini membawa pesan penting bahwa budaya tradisional dan teknologi digital tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan untuk memperkuat identitas generasi muda di tengah arus globalisasi.
“Pemerintah Kabupaten Jember akan terus mendukung ruang kreatif berbasis budaya seperti ini. Kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kuatnya karakter masyarakat dan lestarinya budaya lokal,” tegasnya.
Festival Egrang Tanoker selama ini dikenal sebagai ruang edukasi budaya yang melibatkan anak-anak, pemuda, seniman, hingga masyarakat desa. Permainan tradisional egrang yang dahulu hanya dimainkan di lingkungan pedesaan kini berkembang menjadi simbol pendidikan karakter dan kreativitas masyarakat Ledokombo.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, festival ini juga diharapkan mampu memperluas promosi budaya lokal melalui pemanfaatan media digital dan konten kreatif. Dengan pendekatan tersebut, budaya tradisional Jember diharapkan semakin dikenal hingga tingkat nasional maupun internasional.
Panitia festival juga mengumumkan bahwa lomba egrang dalam rangkaian Festival Egrang Tanoker ke-14 direncanakan digelar pada [1 Agustus 2026]. Kegiatan tersebut diperkirakan akan kembali menghadirkan peserta dari berbagai daerah dan menjadi daya tarik budaya di Kabupaten Jember.
Dengan semangat kolaborasi antara budaya dan teknologi, Festival Egrang Tanoker ke-14 diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tetap mencintai tradisi tanpa tertinggal oleh perkembangan zaman.
