Kalau kamu pernah melintas di jalur trans-Kalimantan lalu belok ke arah Muara Kaman, kamu akan tahu satu hal, bahwa tidak semua tempat mudah dijangkau. Ada wilayah-wilayah yang harus ditempuh dengan kesabaran, dengan jalan panjang, bahkan kadang dengan keyakinan.
Di sanalah Desa Panca Jaya berdiri.
Sebuah desa transmigrasi yang lahir bukan dari kemewahan, tapi dari keberanian. Orang-orang dari Jawa datang membawa cangkul, doa, dan harapan. Mereka tidak membawa banyak harta, tapi membawa tekad untuk memulai hidup dari nol di tanah Kutai Kartanegara.
Hutan dibuka. Tanah digarap. Rumah-rumah kayu didirikan. Dan perlahan, dari peluh dan waktu, terbentuklah sebuah komunitas yang hangat.
Saya, Sukariyanto, yang kemudian dikenal dengan nama hijrah Usman, telah dipercaya menjadi kepala desa kedua di Panca Jaya.
Jabatan ini jauh dari kata mewah. Tidak ada fasilitas berlebihan. Tidak ada pendingin ruangan atau mobil dinas. Yang ada hanya meja kayu tua, berkas-berkas yang menumpuk, dan satu hal yang tidak pernah habis yakni tanggung jawab.
Menjadi kepala desa di tempat seperti ini bukan soal kekuasaan. Tapi soal bagaimana bertahan, mendengar, dan mencari jalan keluar dari masalah yang datang tanpa jadwal.
Di Antara Dakwah dan Tanggung Jawab Dunia
Di luar peran sebagai kepala desa, saya juga aktif di Jamaah Tabligh. Sebuah gerakan dakwah yang mungkin tidak semua orang pahami, tapi bagi kami, ini adalah jalan hidup.
Kami mengenal istilah khuruj fi sabilillah atau keluar dari rutinitas dunia untuk berdakwah. Kadang tiga hari, kadang empat puluh hari, bahkan bisa sampai berbulan-bulan. Kami berpindah dari masjid ke masjid, dari kampung ke kampung, mengajak orang kembali pada nilai-nilai agama.
Di sinilah hidup saya seperti berjalan di dua jalur sekaligus. Satu jalur adalah dakwah yang akan mengajak manusia kembali pada Allah. Jalur lainnya adalah pemerintahan yang harus bisa melayani masyarakat dengan segala keterbatasan yang ada.
Dari Jamaah Tabligh, saya belajar satu prinsip yang sangat sederhana tapi dalam maknanya:
“Pemimpin itu mempermudah, bukan mempersulit.”
Kalimat itu tidak hanya saya dengar di majelis. Tapi saya coba hidupkan di desa. Namun realitas tidak selalu sejalan dengan idealisme.
Motor untuk Kepala Dusun: Masalah Kecil, Dampak Besar
Cerita ini bermula dari sesuatu yang terlihat kecil yakni kendaraan untuk kepala dusun. Di kota, mungkin ini hal sepele. Tapi di desa seperti Panca Jaya, kepala dusun adalah ujung tombak pelayanan.
Mereka yang pertama datang saat ada warga sakit. Mereka yang turun tangan saat ada konflik. Mereka yang mengetuk pintu rumah warga untuk gotong royong.
Masalahnya, mereka tidak punya kendaraan yang layak. Motor pribadi mereka sudah tua. Sering rusak. Bensin pakai uang sendiri. Kalau ban bocor, ya tanggung sendiri. Padahal tugas mereka tidak ringan.
Saya melihat itu setiap hari. Dan saya tahu, ini tidak bisa dibiarkan. Sebagai kepala desa, saya merasa ini tanggung jawab saya. Maka saya mulai bergerak.
Proposal yang Berjalan Tanpa Arah
Saya membuat proposal. Rapi. Lengkap. Ditandatangani. Diberi stempel. Saya kirim ke kecamatan. Lalu ke kabupaten. Tapi seperti banyak cerita birokrasi lainnya, perjalanan proposal itu tidak berjalan lurus.
Ia berputar.
Dari satu meja ke meja lain. Dari satu bagian ke bagian lain. Kadang dikembalikan dengan catatan kecil, “Lengkapi ini.” Kadang hanya dijawab, “Masih diproses.”
Hari jadi minggu. Minggu jadi bulan.
Tidak ada kepastian.
Yang ada hanya perasaan itu, perasaan bahwa suara dari desa kecil seperti kami tidak cukup kuat untuk didengar. Tapi saya tidak menyerah.
Saya lengkapi semua yang diminta. Saya datang lagi. Saya tunggu lagi. Sampai akhirnya, muncul satu keputusan yang mungkin terdengar nekat.
Satu Keputusan Berani: Langsung ke Vila Maluhu
Saya memutuskan untuk langsung menemui Syaukani Hasan Rais. Bukan di kantor resmi. Tapi di Vila Maluhu, tempat beliau biasa beristirahat.
Jujur, saya ragu.
Saya ini siapa? Kepala desa dari wilayah terpencil. Apa mungkin bisa langsung bertemu bupati? Tapi saya ingat satu hal, kalau niat kita untuk kebaikan orang banyak, maka jangan ragu melangkah.
Akhirnya, saya berangkat.
Dengan doa. Dengan harapan. Dan sedikit nekat.
Di luar dugaan, saya dditerima Tidak ada protokol rumit. Tidak ada birokrasi berlapis. Pak Syaukani langsung bertanya:
“Mana proposalnya?”
Saya jelaskan semuanya. Tentang kepala dusun. Tentang kondisi di lapangan. Tentang proposal yang berbulan-bulan tidak jelas nasibnya.
Saya bicara apa adanya. Dan beliau mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Bukan sekadar formalitas. Tapi fokus. Tenang. Penuh perhatian. Lalu beliau berkata:
“Pemimpin itu mempermudah, bukan mempersulit. Besok ambil motor JRD.”
Selesai.
Tidak ada rapat panjang. Tidak ada janji-janji. Tidak ada birokrasi berbelit. Satu keputusan. Tepat sasaran.
Pelajaran Besar dari Satu Kalimat Sederhana
Saya pulang dari Vila Maluhu dengan hati yang penuh. Bukan hanya karena masalah selesai. Tapi karena saya melihat langsung bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap. Pak Syaukani tidak melihat proposal saya sebagai berkas.
Beliau melihatnya sebagai kebutuhan nyata masyarakat. Beliau paham bahwa birokrasi itu alat, bukan tujuan. Dalam Islam, ada doa yang sering kita dengar:
“Ya Allah, siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia…”
Dan hari itu, saya melihat doa itu hidup dalam tindakan. Kepemimpinan bukan soal banyak bicara. Tapi soal keberanian mengambil keputusan yang benar. Apa yang saya lihat hari itu, sebenarnya sejalan dengan ajaran dalam Al-Qur’an.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, Allah berfirman:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam ibadah, tapi juga dalam kehidupan sosial. Seorang pemimpin seharusnya menghadirkan kemudahan, bukan kesulitan. Dan itulah yang saya rasakan hari itu.
Bertahun-tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. Pak Syaukani telah wafat. Tapi pelajaran dari beliau tetap hidup. Di Panca Jaya, motor-motor itu mungkin sudah berganti. Kepala dusun sudah berganti. Generasi juga sudah berubah.
Tapi cerita itu tetap ada.
Saya sering menceritakannya kepada anak-anak muda desa. Bukan untuk membanggakan diri. Tapi untuk mengingatkan bahwa menjadi pemimpin itu tidak harus rumit. Cukup satu prinsip,
Permudahlah urusan orang lain.
Karena pada akhirnya, yang dikenang bukan seberapa tinggi jabatan kita. Tapi seberapa besar manfaat kita. Dan di desa kecil seperti kami, pemimpin yang baik itu sederhana,
Dia hadir.
Dia mendengar.
Dan dia bertindak.
Oleh : Riyawan,S.Hut
