Kota Pasuruan – Seperti bara yang terus menyala di tengah gelanggang, dominasi Perguruan Kuntu Mancilan tak terbendung hingga akhir Kejuaraan Kota (Kejurkot) IPSI Kota Pasuruan 2026 yang resmi ditutup pada Minggu malam. Ajang tahunan ini menjadi panggung pembuktian ratusan pesilat muda yang berlaga penuh semangat selama beberapa hari terakhir.
Sebanyak 424 atlet dari 17 perguruan ambil bagian dalam kompetisi yang digelar di Kota Pasuruan ini. Kuntu Mancilan tampil sebagai kekuatan utama dengan merebut dua gelar juara umum sekaligus, yakni kategori pemasalan dan kategori prestasi. Pada kategori pemasalan, Kuntu Mancilan menempati posisi puncak, diikuti Tapak Suci di peringkat kedua dan Ciung Elang di posisi ketiga. Sementara di kategori prestasi, Kuntu Mancilan kembali unggul, mengalahkan Pencak Organisasi dan PSHT yang harus puas di posisi berikutnya.
“Persaingan tahun ini lebih kompetitif. Banyak atlet menunjukkan perkembangan, baik dari sisi teknik maupun kesiapan mental saat bertanding,” ujar Farid Misbah, Ketua IPSI Kota Pasuruan.
Dominasi Kuntu Mancilan terlihat jelas dari perolehan medali. Di kategori pemasalan, mereka mengoleksi 72 emas, 31 perak, dan 30 perunggu. Sementara Tapak Suci dan Ciung Elang masing-masing hanya mampu mengumpulkan 13 dan 9 medali emas. Pada kategori prestasi, Kuntu Mancilan kembali unggul dengan raihan 9 medali emas, mempertegas konsistensi pembinaan atlet mereka.
“Kualitas kompetisi meningkat. Intensitas pertandingan tinggi dan hasil akhir di beberapa kelas berlangsung sangat kompetitif,” kata Baha’uddin, Ketua Panitia Kejurkot.
Ia menambahkan, sejumlah pertandingan berlangsung ketat hingga babak final dengan selisih poin tipis. Hal ini mencerminkan peningkatan kualitas teknik dan strategi dari para atlet berbagai perguruan.
Meski belum mampu menyalip dominasi Kuntu Mancilan, tim PSHT tetap mencatatkan prestasi membanggakan dengan menembus tiga besar kategori prestasi. Pelatih PSHT, Akhmad Masukhin, menyebut hasil ini sebagai bahan evaluasi penting bagi timnya.
“Kami tetap bersyukur bisa berada di tiga besar. Ke depan, pembenahan strategi dan peningkatan kondisi fisik atlet menjadi fokus utama,” ujarnya.
Salah satu atlet PSHT, Muhammad Bintang Irwansyah, juga merasakan ketatnya persaingan selama kejuaraan berlangsung. Ia menilai pengalaman tersebut menjadi bekal berharga untuk meningkatkan kemampuan di masa depan.
“Setiap pertandingan memberikan pengalaman dan pelajaran. Ini menjadi motivasi agar bisa tampil lebih baik pada kejuaraan berikutnya,” katanya.
Kejurkot IPSI Kota Pasuruan 2026 tak hanya menjadi ajang perebutan gelar, tetapi juga barometer perkembangan pencak silat di daerah. Tingginya partisipasi peserta menunjukkan minat generasi muda yang terus tumbuh terhadap olahraga tradisional ini.
Sebagai tindak lanjut, IPSI Kota Pasuruan akan memproyeksikan atlet-atlet terbaik untuk berlaga di tingkat provinsi melalui program pembinaan lanjutan. Kompetisi ini sekaligus memperlihatkan peta persaingan baru yang semakin ketat di dunia pencak silat Kota Pasuruan.
