Bukittinggi – Derap kuda di Gelanggang Bukik Ambacang, Minggu (26/4/2026), seperti genderang tua yang kembali memanggil ingatan kolektif masyarakat. Pacu Kuda Wisata Derby Bukittinggi–Agam 2026 menjelma menjadi perayaan besar, bukan hanya soal siapa tercepat mencapai garis akhir, tetapi tentang tradisi yang tetap hidup di tengah sorak ribuan penonton.
Ajang ini menghadirkan 80 ekor kuda dari berbagai daerah di Sumatera Barat dan provinsi sekitar. Mereka berlaga dalam 19 race yang berlangsung sengit, menguji kecepatan, ketahanan, kecermatan joki, serta kesiapan kuda menghadapi lintasan tanah Bukik Ambacang. Sejak pagi, arena dipadati masyarakat, wisatawan lokal, hingga tamu asing yang datang untuk menyaksikan atmosfer pacuan khas Minangkabau.
Sorak penonton memuncak setiap kali kuda memasuki lintasan lurus terakhir. Debu yang beterbangan dari arena justru menambah ketegangan, membuat suasana semakin hidup. Kehadiran wisatawan dari Slovenia dan Rumania turut memberi warna berbeda, karena mereka tampak antusias merekam dan mengamati jalannya perlombaan dari tribun utama.
“Ini bukan hanya pacuan kuda. Ini festival budaya yang sangat hidup. Energinya berbeda, sangat autentik,” ujar Nola, wisatawan asal Sijunjung.
Menurut Nola, Gelanggang Bukik Ambacang menyimpan nilai historis yang kuat bagi masyarakat setempat. Ia menilai arena tersebut bukan sekadar tempat perlombaan, melainkan ruang budaya yang terus bergerak bersama zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Pemerintah Kota Bukittinggi bersama Pemerintah Kabupaten Agam kini mendorong pacuan kuda ini menjadi ikon wisata olahraga berbasis budaya. Event tersebut dipandang memiliki potensi besar untuk menarik kunjungan wisata, menggerakkan ekonomi lokal, dan memperkuat identitas daerah di mata publik yang lebih luas.
“Kita ingin event ini tidak hanya besar secara pelaksanaan, tetapi juga kuat secara identitas dan konsisten secara jadwal. Ini harus menjadi kebanggaan daerah,” ujar Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias.
Ramlan menegaskan, rencana penyelenggaraan rutin dua kali setahun, yakni pada April dan Desember, menjadi bagian dari strategi memperkuat kalender wisata olahraga Bukittinggi–Agam. Konsistensi jadwal diharapkan membuat wisatawan lebih mudah merencanakan kunjungan sekaligus memberi kepastian bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM sekitar.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga menyiapkan konsep kompetisi berjenjang melalui Triple Crown Pordasi Sumatera Barat. Skema ini mencakup lintasan 1.400 meter, 1.500 meter, hingga 1.600 meter, dengan harapan mampu meningkatkan kualitas kuda, joki, dan standar penyelenggaraan pacuan di daerah.
Pembukaan resmi dilakukan Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, melalui pemukulan gong. Prosesi adat berupa penyerahan bendera gelanggang dari niniak mamak kepada panitia turut menegaskan bahwa pacuan ini berdiri di atas fondasi budaya yang kuat.
Dengan semarak penonton, partisipasi puluhan kuda, dan perhatian wisatawan asing, Derby Bukittinggi–Agam 2026 memperlihatkan bahwa pacuan kuda Bukik Ambacang bukan sekadar perlombaan. Ia adalah panggung tempat olahraga, pariwisata, dan adat Minangkabau berpacu bersama menuju pengakuan yang lebih luas.
