Fokus pada isi menjadi prinsip penting dalam komunikasi yang sehat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tergoda menilai sebuah pendapat bukan dari kebenarannya, tapi dari siapa yang menyampaikannya. Sikap ini bisa merusak keadilan berpikir dan menutup pintu bagi ide-ide segar.
Poin penting ini mengajak kita untuk membangun komunikasi yang objektif—yaitu menilai pesan berdasarkan substansi, bukan latar belakang pembicara. Saat kita bisa memisahkan pribadi dari gagasan, kita sedang mempraktikkan kedewasaan komunikasi yang sebenarnya.
“Ketika kita terlalu fokus pada siapa yang bicara, kita bisa kehilangan banyak ide brilian yang datang dari arah tak terduga,” ujar Damar Hadi, fasilitator dialog lintas generasi dan pelatih komunikasi kritis.
Menurut Damar, objektivitas bisa dibangun dengan cara sederhana: bertanya pada diri sendiri “Apa inti pesannya?”, bukan “Siapa yang bicara?” Pendapat dari junior, bawahan, atau bahkan orang yang kita kurang sukai, tetap layak didengar jika isinya bernas.
Menerapkan prinsip ini berarti kita harus terbuka terhadap masukan dari siapa pun, tanpa prasangka atau label. Status sosial, usia, jabatan, atau tingkat kedekatan seharusnya tidak menjadi alat ukur utama dalam menilai kebenaran suatu ide.
Sayangnya, dalam praktiknya masih banyak kesalahan umum terjadi: meremehkan pendapat karena tidak suka orangnya, atau sebaliknya, menerima ide tanpa berpikir hanya karena datang dari tokoh berpengaruh. Bahkan dalam dunia profesional, keputusan sering kali dipengaruhi oleh relasi pribadi, bukan argumentasi yang masuk akal.
Contoh perbandingan:
- Tidak objektif: “Ah, dia kan junior.”
- Objektif: “Idenya masuk akal dan bisa dipertimbangkan.”
Objektivitas juga menuntut konsistensi dalam standar penilaian. Jika sebuah ide kita anggap baik dari orang A, maka ide serupa dari orang B juga layak mendapat pengakuan yang sama. Inilah wujud dari komunikasi yang adil, rasional, dan bebas bias.
Dengan mengedepankan isi pesan daripada figur pembawa pesan, kita membuka ruang dialog yang lebih sehat, terbuka, dan produktif. Komunikasi seperti ini bukan hanya memperkaya wawasan, tapi juga menumbuhkan budaya saling menghargai.
