Tahan bicara sebentar mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya besar dalam komunikasi. Tidak menyela pembicaraan bukan hanya soal sopan santun, melainkan cermin penghargaan kita terhadap pikiran dan perasaan orang lain. Inilah salah satu prinsip paling mendasar dalam percakapan yang sehat dan beradab.
Menyela sering dianggap sepele, padahal bisa mengacaukan alur komunikasi. Saat seseorang merasa dipotong di tengah kalimat, mereka bisa merasa diremehkan atau tidak dianggap penting. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, bahkan memperkeruh suasana.
“Orang yang menyela tanpa sadar sedang mengedepankan egonya, bukan niat memahami,” ujar Hendra Wijaya, seorang trainer komunikasi interpersonal.
Ia menekankan bahwa komunikasi bukan tentang siapa yang paling cepat bicara, melainkan siapa yang paling siap mendengar. Dengan tidak menyela, kita memberi ruang bagi lawan bicara menyampaikan isi pikirannya secara utuh. Ini mencerminkan kesabaran dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan sudut pandang.
Untuk melatih agar tidak menyela, kuncinya ada pada kesadaran dan kontrol diri. Tahan dulu keinginan untuk langsung menanggapi. Fokus pahami dulu isi pembicaraan. Jika muncul ide atau tanggapan, catat secara mental, lalu sampaikan setelah lawan bicara selesai.
Bahasa tubuh seperti anggukan atau ekspresi wajah bisa menjadi respon sementara yang sopan. Jeda sejenak sebelum berbicara juga memberi sinyal bahwa kita menghargai giliran dan alur komunikasi.
Namun, dalam kondisi tertentu, menyela tetap bisa dilakukan dengan sopan—misalnya untuk klarifikasi penting, mengembalikan topik yang melenceng, atau saat terjadi situasi darurat. Tetap gunakan kalimat seperti: “Maaf, boleh saya klarifikasi sebentar?” agar tidak terkesan kasar.
Contoh sikap dalam komunikasi:
- Baik: Menunggu lawan bicara selesai, lalu menanggapi dengan relevan.
- Buruk: Memotong kalimat hanya karena tak sabar atau ingin terlihat lebih tahu.
Tidak menyela bukan berarti pasif. Justru, dengan mendengarkan sepenuhnya, kita memberi nilai lebih pada percakapan. Terkadang, mendengarkan lebih menyentuh hati daripada seribu kata nasihat.
